Bahaya Laten Komunis

Ada orang-orang tertentu yang senang mengeluh atau mengkritik orang lain tanpa memberi alternatif solusi. Ada orang-orang yang begitu optimis mencari solusi lalu terbentur dengan kenyataan yang jauh lebih besar dari dugaannya dan akhirnya jadi pesimis. Syukurlah, ada orang yang tampaknya innocence terhadap kerumitan masalah itu dan begitu percaya diri untuk memberikan apa yang dipunyainya kalau-kalau berfaedah bagi pemecahan masalah.

Tiga tipe ini kita dapati dalam narasi Injil hari ini: (1) Filipus yang spekulatif dengan wacananya, begitu yakin bahwa tak ada yang bisa dibuat ‘untuk mengentaskan kemiskinan’, (2) Andreas yang realistis terhadap kompleksitas permasalahan, dan (3) anak kecil yang memberikan seluruh bekalnya, lima roti dan dua ikan, sebagai bagian dari pemecahan masalah. Tiga karakter ini mungkin juga sama-sama tak melihat jalan keluar, tetapi berbeda dari Filipus dan Andreas, anak kecil itu melihat kemungkinan hubungan antara apa yang dipunyainya dan jalan keluar dan karenanya ia memberikan bekalnya itu.

Secara sepintas, gerak teks ini seolah menyarankan nasihat moral supaya orang mau memberikan miliknya demi kepentingan orang banyak dan, kalau ditarik ke titik ekstrem, ini dekat dengan penghapusan hak milik pribadi demi manajemen seluruh negeri. Itulah yang diidam-idamkan komunisme. Akan tetapi, gada ceritanya bahwa Injil bisa jadi landasan komunisme. Gerak positif teks (banyak orang kelaparan dikenyangkan) tidak terjadi tanpa elemen krusial dalam proses pemberian bekal anak kecil tadi. Pemberian bekal anak kecil itu tak ada artinya dalam pendekatan ideologis Filipus maupun pendekatan realistis Andreas. Jadi, kalau hanya berhenti pada penghapusan hak milik pribadi, pastilah hasilnya seperti yang diprediksi Filipus dan Andreas: chaos, nihil, useless.

Elemen krusial dalam teks Injil bukanlah perampasan atau penghapusan hak milik pribadi, melainkan pemanfaatan hak milik pribadi itu bagi proyek Yesus. Bacaan pertama juga memberi kerangka pemahaman. Orang-orang Yahudi yang hendak melenyapkan para rasul dinasihati oleh guru bijak supaya mereka tak gegabah. Kalau para rasul itu memang seperti yang mereka gambarkan sebagai penghujat Allah dan perusak tradisi, gerakan mereka pasti akan lenyap seperti gerakan-gerakan sebelumnya. Tetapi jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah. Yang penting di situ ialah proyek Allah sendiri, yang takkan pernah bisa dihentikan dengan aneka kalkulasi manusiawi. Proyek Allah berpihak pada kepentingan universal, sekurang-kurangnya pada kepentingan semakin banyak orang.

Oleh karena itu, bahaya laten komunis dewasa ini terletak bukan pada gerakan perjuangan keadilan sosial, melainkan justru pada upaya-upaya yang merongrong perjuangan keadilan sosial itu. Contohnya korupsi. Korupsi, pada titik ekstremnya hendak menghapus hak milik pribadi lain dan mengakumulasinya jadi kekayaan pribadi sendiri atau kelompok. Jadi, para koruptorlah yang merupakan bahaya laten komunis, bukan para aktivis yang mengkritisi kebijakan yang korup!

Tapi jangan ge er dulu, koruptor tak mengenal pembagian klas: ia bisa hidup di antara petani, nelayan, guru, buruh, direktur, menteri, gubernur, anggota dewan (entah genit atau centil), anggota partai yang bahkan menyematkan kata keadilan pada namanya, dan sebagainya.

Ya Allah, semoga kami berjiwa besar untuk memanfaatkan hidup kami bagi kepentingan-Mu. Amin.


HARI JUMAT PASKA II
8 April 2016

Kis 5,34-42
Yoh 6,1-15

Posting Tahun 2015: Modal Duit Saja Gak Cukup
Posting Tahun 2014: Determinasi Orang Rendah Hati