IGD: Ini Genitnya Dewan

Struktur organisasi biasanya memuat beberapa divisi atau elemen yang kiranya menyokong realisasi visi dan misi organisasi tersebut. Di negeri tercinta ini, struktur organisasi seperti itu bisa punya efek samping terhadap anggota keluarga mereka yang masuk dalam struktur: ikatan pembantu anggota organisasi, misalnya. Mereka ini tidak terlibat dalam kinerja organisasi. Cuma karena ‘kebetulan’ bos mereka sama-sama bekerja dalam satu organisasi, bolehlah mereka mengklaim persaudaraan antarpembantu. Aih, genitnya. Ada masalah? Enggak. Genit itu mungkin pilihan kepribadian yang menyenangkan sebagian orang, dan pilihan itu layak dihargai.

Sayangnya, kegenitan ala rombongan alay tak selamanya kedap dimensi sosial. Anda yang berkendara malam hari mungkin pernah menjumpai motor alay yang lampu remnya justru berwarna putih menyilaukan mata. Lampu rem macam ini membahayakan jika difungsikan pada malam hari di jalan raya yang juga dipakai oleh pengendara lain. Ha njuk hubungannya dengan ikatan persaudaraan sesama pembantu tadi? Semangatnya sama: genit.

Di mana genitnya? Mereka kan cuman plesir ke luar kota. Genitnya karena bawa-bawa nama organisasi itu. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, genit berarti bergaya-gaya, banyak tingkahnya. Anggota ikatan persaudaraan ini bergaya-gaya seakan program plesir itu berbau-bau Dewan. Lebih runyam lagi kalau plesir itu memang program resmi Dewan; yang genit bukan cuma ikatan persaudaraannya, melainkan juga Dewannya: genit bin centil.

Kegenitan macam ini menyilaukan mata batin orang sedemikian rupa sehingga orang tak bisa lagi fokus secara jelas. Apa saja yang dilihatnya selalu sudah ada dalam lingkaran kegenitan itu,”Semua orang juga begitu.” Semua istri presiden juga punya wewenang untuk mengetuai yayasan; semua pasangan anggota kabinet juga punya hak untuk dapat pengawalan pribadi; semua anak direktur boleh kok pakai fasilitas kantor, dan begitu seterusnya. Tolok ukur tindakan bukan lagi diletakkan pada visi misi organisasi, melainkan pada apa yang dianggap senyatanya dihidupi orang banyak.

Petrus dalam bacaan pertama menegaskan bahwa manusia semestinya lebih taat kepada Allah daripada manusia. Nyatanya orang tak berani mempertaruhkan hidupnya demi ketaatan yang tak populer itu, yang cenderung melawan arus ‘semua orang juga begitu’. Orang lebih nyaman sebagai bunglon supaya tetap diterima dalam aneka ikatan persaudaraan: di dalam gereja berlagak saleh sebagai prodiakon, di luar gereja berlagak nyeleneh sebagai abege.
Loh, bukankah kita mesti empan papan, peka situasi, mampu beradaptasi sesuai sikon, Rom?
Betul, tetapi empan papan tak berarti merelatifkan prinsip. Orang santun dalam hidup agama mungkin tak bisa santun melawan korupsi. Sebaliknya, orang yang santun berkorupsi bisa jadi sangat santun pula dalam beragama. Orang pertama memegang prinsip. Orang kedua tak berprinsip (dan melecehkan agama, menganggap agama hanyalah kumpulan tata sopan santun).

Taat kepada Tuhan, saya kira, pertama-tama adalah tahu bagaimana membuat pilihan-pilihan berani (dan bermutu) dalam hidup yang remeh temeh, yang serba sepele. Di Jepang, sejak kecil anak-anak sudah dilatih aneka sopan santun dan kebiasaan yang mencerminkan prinsip yang baik. Hasilnya kiranya juga baik. Agama tidak pertama-tama dibangun untuk membangun tatanan moral seperti itu, melainkan untuk menghubungkan orang dengan Sang Cinta yang memberdayakan orang untuk membangun tatanan moral.

Ya Tuhan, mohon kecerahan hati dan budi untuk merealisasikan cinta-Mu. Amin.


HARI KAMIS PASKA II
7 April 2016

Kis 5,27-33
Yoh 3,31-36

Posting Tahun Lalu: Taat kepada Allah Mah Gampang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s