Komitmen Berhadiah

Sebagian orang Kristen memahami teks hari ini secara eksklusif: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Anak-Nya yang tunggal diidentifikasi sebagai Yesus dan ‘yang percaya kepada-Nya’ diidentikkan dengan orang yang beragama Kristen. Kalau Anda membaca seperti ini dan tetap ingin membaca begitu, mohon segera berhenti membaca posting ini.

Kalau sekurang-kurangnya ingin membaca dengan perspektif lain, mungkin bisa mengingat kembali posting Hidup sebagai Hadiah. Kenapa posting itu? Karena teks Yohanes tadi memang menguak nuansa Allah yang menghadiahkan anak tunggal kepada dunia. Dunia, dalam teks Yohanes muncul katanya 78 kali dengan arti yang beragam. Di sini, dunia itu bisa dimengerti sebagai kemanusiaan. Berarti, Allah itu menganugerahkan pribadi seperti Yesus untuk membangun kualitas kemanusiaan.

Lah, kalo gitu, kalimat “Allah mengaruniakan anak tunggal-Nya” tak bisa dimengerti dengan gambaran sosok sinterklas memberikan hadiah cuma-cuma dan orang tinggal menerimanya dengan nyengir cengengas-cengenges girang. Tentu wajar bergirang, tetapi ini bukan girang karena lenggang kangkung. Ini girangnya orang yang boleh berpartisipasi dalam pembangunan kualitas kemanusiaan itu. Meskipun girang, orang tetap mengemban amanah besar untuk hidup dalam terang. Atau persisnya, orang bergirang justru karena mengemban amanah dan menanggung konsekuensi seperti dialami para rasul dalam bacaan pertama.

Kalau mau mengambil contoh sederhana, bisa dibaca tulisan teman saya di tengah ladang jagung sana: coba melihat dengan perspektif yang lebih luas. Perspektif yang sempit punya bahaya menjerumuskan orang pada sikap arogan atau, kutub lawannya, minder. Yang arogan merasa punya legitimasi untuk bertindak nyeleneh dan sewenang-wenang (toh tidak semua orang begitu sehingga dunia ini tidak anarkis). Jadi, kalau saja yang hobi membuang-buang makanan tiga sendok cuma satu juta orang, entah itu sepadan dengan makanan untuk berapa nyawa. Tentu ini adanya pada level utak-atik-otak; bisa dibantah sebagai pikiran spekulatif dan mengada-ada; siapa juga yang akan mengumpulkan sisa makan tiga juta sendok. Ini memang wacana kognitif belaka. Kalau mau di level lebih afektif, ya sumonggo dilakoni saja komitmen untuk berpartisipasi dalam proses penciptaan Allah itu.

Yang ada dalam kutub minder berpikiran bahwa upaya yang dibuatnya itu terlalu kecil bagi dunia sehingga hampir bisa dikatakan tak ada artinya bagi pengembangan kualitas hidup kemanusiaan. Maka, daripada capek-capek membuat komitmen dan memenuhinya tapi tak ada kontribusinya bagi dunia, lebih baik terima saja apa yang ada. Orang minder ini memaknai hidup dari segi hasil dengan ukuran kuantitatif tanpa melihat hidup kekal yang diwartakan Injil dan agama-agama. Baik yang arogan maupun yang minder, semuanya menyangkal kebenaran yang disodorkan teks hari ini: Allah sedemikian mencintai dunia sehingga Ia memberikan anak tunggal-Nya.

Tuhan, bantulah kami untuk menyatakan hadiah-Mu bagi dunia. Amin.


HARI RABU PASKA II
6 April 2016

Kis 5,17-26
Yoh 3,16-21

Posting 2015: Neraka Bukanlah Hukuman
Posting 2014: Habisi Gelap Terbitkan Terang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s