Reklamasi… Dengan Ini…

Setiap orang punya hak untuk melakukan kesalahan tetapi demi martabatnya yang sedikit lebih baik daripada keledai, ia punya kewajiban untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama (wong masih ada banyak kesalahan lain yang bisa dilakukan). Meskipun lebih daripada sekadar kapok, pertobatan toh punya pengandaian bahwa orang tidak mengulangi kesalahan yang sama. Hanya saja, pengandaian ini tidak didasarkan pada martabat yang sedikit lebih baik daripada keledai, tetapi pada undangan untuk melihat hidup dari perspektif yang berbeda.

Perspektif yang berbeda inilah yang ditawarkan Yesus kepada Nikodemus: kebangkitan menerangi hati dan budi. Maka, kalau orang beriman tak bisa juga bangkit, barangkali memang imannya sedang ngedrop. Orang yang ngedrop ini susah memandang hidup dengan perspektif baru. Adanya cuma pesimisme, sinisme, atau frustrasi. Nikodemus tentu bukan orang bodoh. Ia teolog yang sangat terpelajar. Akan tetapi, keterpelajarannya itu tak juga membuka perspektifnya, tak menjawab kegelisahan batinnya: bagaimana mungkin orang bisa dilahirkan kembali seturut yang disarankan Yesus? Dengan dibaptis? Nyatanya orang yang dibaptis juga podho bae: korupsi, garong, maling, narkoba, rasis, dan lain sebagainya! Apa maksudnya dilahirkan kembali itu yang sebelumnya baik-baik njuk dibaptis supaya jadi garongnya lebih mantap?!

Yesus tidak menanggapi kegelisahan Nikodemus itu dengan utak-atik-otak. Ia menyodorkan imajinasi. Seperti dulu patung ular ditinggikan Musa, begitu pula Yesus Kristus ditinggikan di tiang salib, memberikan kesembuhan, keselamatan, hidup kekal. Loh, itu kan peristiwa kematian?! Mana kebangkitannya? Lha ya justru itu: salib itu adalah sisi lain kebangkitan. Gak mungkin ada kebangkitan tanpa salib, dan sebaliknya.

Konon, katanya, pernah ada yang cerita, Teresa Ávila dalam kontemplasinya mendapat penampakan dari Yesus yang bangkit. Sebenarnya yang terjadi ialah bahwa roh jahat atau setan sontoloyo itu menyerupakan dirinya dengan Yesus. Teresa mengusir Yesus yang bangkit ini sedemikian rupa sampai akhirnya Yesus gadungan bertanya,”Dari mana kamu tahu aku bukan Yesus yang bangkit?” Teresa menjawab,”Gak ada luka-luka di tangan dan kakimu!”

Kemuliaan iman tak terletak pada hepi-hepinya, tetapi pada pemaknaan terhadap penderitaan. Orang tidak dikatakan bangkit hanya karena ia sukses dalam bisnisnya yang hampir nungslep. Orang tidak dikatakan bangkit hanya karena ia berhasil menjuarai olimpiade antar planet. Kebangkitan orang terjadi ketika perspektifnya meluas dan mengubah paradigma hidup yang sempit narcisistik. Contohnya ada dalam bacaan pertama: bukan soal komunisme, melainkan soal hidup yang tak pernah membiarkan kelompok lemah sampai terpinggirkan, tersingkirkan, tergilas, terabaikan.

Maka, tanpa mengurangi antusiasme besar terhadap gubernur sante, orang mesti waspada juga terhadap konsep dasar pembangunan yang diam-diam menyingkirkan kelompok lemah demi kepentingan segelintir orang yang hobi bancakan di atas penderitaan orang lain. Nama bancakan itu bisa bagus: reklamasi, relokasi, revitalisasi, reboisasi, dan sebagainya, tetapi praktiknya mungkin tak sesuai dengan roh kebangkitan. Kebangkitan adalah sisi lain penderitaan sendiri, bukan penderitaan orang lain. Jika penderitaannya adalah penderitaan orang lain, itu bukan kebangkitan, melainkan kebangsatan.

Ya Tuhan, semoga perspektif kami semakin Kauluaskan supaya kami tak semata berangkat dari kepentingan diri. Amin.


HARI SELASA PASKA II
5 April 2016

Kis 4,32-37
Yoh 3,7-15

Posting Tahun 2015: Real-Time Heaven
Posting Tahun 2014: Kristenisasi Yang Nonsense

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s