Gubernur Sante(t)

Pernah lihat orang yang kurang PD? Ia nervous, merasa diri dibanding-bandingkan (padahal yang membanding-bandingkan tak lain adalah dirinya sendiri). Kerap kali ia membicarakan kejelekan orang lain tanpa bisa mengapresiasi kebaikan orang lain secara tulus. Segala daya upaya dibuatnya untuk menutupi kejelekannya sendiri, dengan aneka macam ancaman, gertakan terhadap orang lain; kalau perlu, undang dukun santet. Rasa saya, gubernur you know who sekarang ini tak gentar dengan santet. Apes-apesnya ya mati, dan kalau mati malah dia terbantu merealisasikan keyakinannya lebih cepat lagi: mati adalah keuntungan.

Saya tak hendak mengklaim bahwa gubernur you know who ini adalah manusia terbaik yang ada di muka bumi saat ini. Bisa jadi dia khilaf, bisa jadi dia sempat tak waras, bisa jadi dia luput atas beberapa detail. Mungkin lebih mengerikan lagi, bisa jadi dia menyimpan paradigma yang kurang tepat mengenai tata kota karena terlindas oleh paradigma global tentang kota metropolitan dan sebagainya. Tetapi fondasi yang dibangunnya mengenai transparansi dan orientasi pada bonum commune pantas diapresiasi. Ini kekuatan ‘santet’ versi dia, yang berlaku bagi dirinya sendiri juga, yang artinya, kalau dia melanggar fondasi itu, dia terkena ‘santet’-nya sendiri.

Sekarang ini, disposisinya terlihat sante, seperti dua rasul yang dinarasikan dalam bacaan pertama hari ini. Dua rasul itu bukan orang terpelajar, bukan alumni perguruan tinggi berkelas, bukan doktor, bahkan sarjana sekalipun, tetapi dengan sante dan beraninya mereka bicara kepada khalayak rame. Otoritas agama waktu itu begitu gencar mengancam dan melarang mereka, tapi ancaman dan larangan itu tak bisa membungkam mereka. Mereka begitu pedenya menyampaikan pewartaan.

Pada teks Injil digambarkan kondisi para rasul yang sangat rapuh, takut, lemah, berkebalikan dengan keadaan mereka dalam narasi bacaan pertama. Para rasul sedang berkabung dan menangis. Suasana duka dan tangisan itu menghambat mereka untuk percaya pada pewartaan orang lain yang telah melihat Yesus yang bangkit. Suasana duka dan tangisan itu menambah kedegilan hati mereka. Orang yang hatinya degil, tak punya kreativitas, tak punya keterbukaan terhadap kebangkitan yang diwartakan orang lain. Sikap ini yang dikritik oleh Yesus.

Duka dan tangis, siapa yang mau melarang? Tetapi celakalah orang yang karena duka dan tangis, tak bisa melihat tanda-tanda kebangkitan dalam diri orang lain. Kita tidak sedang mendoakan orang lain celaka, tetapi kita merasakan sendiri betapa menjijikkannya kelompok orang yang nyinyir lantaran tak senang dengan transparansi (takut ketahuan belangnya) dan menentang agenda bonum commune (takut kepentingan pribadinya – yang belum tentu penting – tak terealisir). Orang-orang macam ini tak melihat kebangkitan dan malah sibuk mencari cara menyerang dan mengalahkan gubernur sante.

Semoga makin banyak warganya yang juga sante nyetor katepe. Amin.


SABTU DALAM OKTAF PASKA
2 April 2016

Kis 4,13-21
Mrk 16,9-15

Posting 2015: Baptis Semua Orang? Yang Bener Aja
Posting 2014: Ber-Tuhan Tanpa Agama?