Takut Kok Dipelihara

Sebagaimana tak ada cinta yang dipupuk dalam ketakutan, begitu juga tak ada iman yang diperkokoh dalam ketakutan. Takut akan dosa, takut neraka, takut hukuman, takut kehilangan, takut dimarahi, takut gagal, takut salah, semuanya efektif untuk membentuk keseragaman atas nama ketaatan kepada Gereja, kepada pembesar, kepada boss, kepada aturan agama, liturgi, dan sebagainya. Semua itu baik untuk memupuk iman kekanak-kanakan, childish, tetapi tak kondusif bagi pengembangan iman sederhana, childlike.

Orang mengira iman sederhana itu mudah, soal manut, taat pada apa yang diperintahkan orang lain, pemuka agama misalnya. Akan tetapi, justru sebaliknya, iman sederhana ini jauh lebih sulit daripada iman yang kekanak-kanakan karena tolok ukurnya bukan perintah orang atau aturan, melainkan perintah Allah sendiri. Nah, kalau sudah soal menaati perintah Allah, itu bukan lagi perkara gampang karena parameternya bukan cuma kinerja robot, aturan tertulis, melainkan juga ‘aturan’ yang tertera dalam batin orang. Ia tak bisa lagi sewenang-wenang mengklaim bahwa yang dibuatnya ialah kehendak Allah. Lebih njelimet lagi urusannya.

Dalam teks bacaan hari ini dikisahkan bagaimana para rasul mengurung diri karena takut kepada orang-orang Yahudi. Takut kenapa ya? Sekarang saya jadi tidak yakin kenapa mereka takut. Kalau orang-orang Yahudi itu mau menyerang gerakan Yesus seakar-akarnya, tentu segera setelah Yesus mati mereka segera menghabisi murid-muridnya. Tetapi tampaknya bukan itu yang terjadi. Orang Yahudi tak terindikasikan punya niat buruk terhadap murid-murid Yesus.

Dalam Injil Yohanes, orang-orang Yahudi menjadi representasi dunia ketidakpercayaan. Persisnya, mereka yang tak percaya pada kebangkitan (Kristus). Para rasul itu takut kontak dengan dunia seperti itu. Ini adalah bahasa Yohanes untuk menggambarkan bagaimana Gereja sendiri bisa jatuh pada eksklusivisme yang memutuskan hubungan dengan dunia ‘kafir’ tadi, yang ironisnya justru adalah dunia yang membutuhkan pewartaan para murid yang eksklusif itu! Njuk kenapa para murid malah takut dan menutup diri? Kenapa dulu orang mengira bahwa agama mesti takut pada sains? Bukankah jika kebenaran itu datang dari Allah, semestinya kebenaran sains juga menyokong kebenaran dari Allah?

Para murid takut karena mereka belum mengalami perjumpaan dengan sosok yang bangkit itu. Mereka belum ngeh bahwa hidup yang dihadiahkan demi Cinta bukanlah suatu kekalahan, kehilangan, kesia-siaan. Mereka jadi takut dan kalau orang takut, mana mau ia berdialog? Bisa jadi ia malah intoleran, agresif, fundamentalis, fanatik. Jadi, teriakan-teriakan kelompok fundamentalis, gertakan kelompok intoleran itu sesungguhnya hanyalah gema ketakutan mereka sendiri.

Ciri murid yang mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit antara lain ialah keterbukaannya terhadap dunia yang berbeda, mau berdialog justru supaya warta kebangkitan itu juga sampai pada dunia yang berbeda itu. Kalau cuma mau menikmati kebangkitan untuk diri sendiri mah, saya kira gak ada gunanya Yesus bangkit. Mati aja lagi.

Tuhan, mampukanlah kami menyingkirkan aneka ketakutan yang menghambat kami untuk beriman pada-Mu. Amin.


HARI MINGGU PASKA II C/2
HARI MINGGU KERAHIMAN ILAHI
3 April 2016

Kis 5,12-16
Why 1,9-11a.12-13.17-19
Yoh 20,19-31

Posting Minggu Paska II B/1 2015: Anda Kembaran Tomas
Posting Minggu Paska II A/2 2014: Jam Kosong Itu Menyenangkan