Jerat Oportunis

Published by

on

Seturut kalender liturgi Katolik, hari ini dirayakan kabar sukacita malaikat kepada Maria, yang semestinya dirayakan setiap 25 Maret. Karena mesti melawan Jumat Agung tahun ini, kabar sukacitanya mengalah sampai hari ini. Bacaannya setiap tahun sama, dan tahun ini saya mau melanjutkan refleksi dengan pijakan pesan kemarin (Takut Kok Dipelihara).

Maria bukan sosok gadis sampul atau model tingkat kecamatan sekalipun. Ia perempuan biasa saja dan kita tahu bahwa kultur masyarakatnya waktu itu begitu patriarkal sehingga rada susah melihat sosok Maria sebagai pusat perhatian. Entah mengapa malaikat memilih perempuan ini, gak ada standard operating procedure-nya. Yang menarik untuk diamati adalah jawaban yang diberikan Maria. Ini sudah banyak diulas di sana sini, tetapi mungkin baik menilik refleksi kemarin: jangan-jangan Maria ini menjawab positif kepada malaikat karena takut, karena merasa gak enak, karena terpaksa, dan sejenisnya.

Modalitas ‘jangan-jangan’ ini bisa dipahami dengan konteks hidup pembaca sendiri. Tak sedikit orang yang pada saat dihadapkan pada pilihan tertentu, ia akan memasukkan kemungkinan pandangan orang lain terhadap pilihannya itu: keluarganya, bosnya, teman dekatnya, Akibatnya? Orang masuk dalam lingkaran kekhawatiran: nanti apa kata dunia, jangan-jangan anakku protes, jangan-jangan suamiku marah, jangan-jangan temanku njothak (mendiamkan) aku, dan sebagainya. Orang lebih concern pada pandangan orang lain (betapapun baik atau buruknya pandangan itu) dan jadi oportunis daripada mempertimbangkan sungguh pokok persoalannya sendiri.

Maria tidak menjawab ‘ya’ karena terpaksa atau karena sudah seharusnya ia menjawab ‘ya’. Pada saat kabar itu datang, ia tidak konsultasi dengan siapapun. Ia meletakkan modalitas ‘seharusnya’ bukan menurut siapa-siapa, melainkan seturut kehendak Allah sendiri [dan sewajarnya orang bertanya ‘dari mana tahu itu kehendak Allah’ – dari kedalaman hati, dari cinta, yang tak gampang dikatakan begitu saja. Pokoknya orang jujur mencari kehendak-Nya lebih daripada kehendaknya sendiri]. Maka, ia menjawab bukan karena takut terhadap kemungkinan pandangan orang lain terhadap keputusannya apabila konsekuensinya menyakitkan, melukai, menjadi skandal, dan sebagainya. Maria mengambil keputusan dari cintanya (eaaaa…. cinta melulu’) kepada Allah.

Memberi tanggapan dari cinta memang bisa menantang, bisa jadi melawan arus, menuntut keberanian untuk sendirian, seperti suara di padang gurun. Tapi tanggapan seperti itulah yang justru membawa kedamaian dan kegembiraan dalam hati orang. Jika orang berangkat dari ‘apa yang dikehendaki Allah’, ia akan breakdown tolok ukur itu bagi masing-masing orang yang terlibat dalam konsekuensi keputusannya: Yosef akan mengalami krisis kepercayaan, keluarga akan menanggung malu, masyarakat akan curiga; akan tetapi, aku mesti berupaya memberi pengertian mengenai rencana Allah yang lebih besar daripada agenda pribadi ini. Di sini, Maria bukannya oportunis: gak peduli pada apa kata orang atau, sebaliknya, bergantung pada kata orang. Ia peduli pada kata orang, tetapi menempatkan kata orang itu pada skema yang lebih mulia: rencana, kehendak Allah bagi kemanusiaan.

Rencana Allah tentu saja tak selalu mengenakkan bagi setiap orang, tetapi jelas bukankah memang hidup ini tak bisa dihadapi hanya dengan modal oportunis cari enak dan menjauhi yang tidak enak?

Bunda Maria, bantulah aku untuk melepaskan diri dari semangat oportunis, jerat ketakutan dan memupuk cinta kepada-Nya. Amin.


HARI RAYA KABAR SUKACITA
(SENIN PASKA II)
4 April 2016

Yes 7,10-14;8,10
Ibr 10,4-10
Luk 1,26-38

Posting 2015: Hati Selektif
Posting 2014: The Joy of Live-Giving Choice