Anda Kembaran Tomas

Sejak kecil saya diberi kesan bahwa Tomas identik dengan ketidakpercayaan atau kekurangpercayaan. Akan tetapi, setelah membaca teks Injil hari ini, saya mendapat kesan lain juga. Ditampilkan dua adegan dengan setting yang kurang lebih sama: Kristus muncul di tengah-tengah para murid yang berkumpul di senakel yang tertutup rapat. Pada penampakan pertama, Tomas absen. Pada adegan kedua, delapan hari kemudian, Tomas hadir dan dia menjadi pusat perhatian semua. Maklum, ketika teman-temannya bilang bahwa mereka melihat Tuhan, ia tidak percaya. Reaksinya pada pertemuan kedua menjadi pokok perhatian.

Siapakah Tomas ini? Namanya berarti ‘kembar’. Barangkali simbolik juga: kembaran kita. Dalam Injil Yohanes, Tomas muncul tiga kali: (1) sewaktu Yesus hendak berangkat ke Betania dekat Yerusalem untuk membangkitkan Lazarus. Reaksi Tomas: ayo kita ikut mati bareng dia di sana! (Yoh 11,16) Reaksi normal juga, wong belum punya pengalaman kebangkitan. Kematian baginya menjadi final, ujung akhir; (2) dalam diskursus selama perjamuan terakhir, Yesus mengindikasikan penderitaan dan wafatnya dengan pesan bahwa ia akan pergi mendahului murid-muridnya ke tempat mereka nantinya akan nyusul. Tomaslah yang menanggapi pernyataan Yesus itu dengan pertanyaan: lha wong kami gak tau ke mana engkau pergi, gimana kami bisa tahu jalannya? (Yoh 14,4); (3) dalam penampakan Kristus kepada para rasul, Tomas bereaksi,”Pokoknya kalo’ aku gak liat sendiri, kagak bakal percaya” (Yoh 20,25) dan ketika syaratnya itu kemudian terpenuhi ia berseru,”Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20,28).

Kenapa Tomas absen pada adegan pertama? Entahlah. Nanti tanya saja sendiri. Mungkin dia gak ngerti kenapa juga mesti mengunci diri di senakel. Tentu saja dia ngerti bahwa teman-temannya takut, tetapi justru itulah yang ia gak ngerti: kenapa kalau takut itu mesti menutup diri?! Ia tidak merasa diri lebih baik dari teman-temannya, cuma gak ngerti kenapa teman-temannya begitu. Tomas mencari pengertian. Ini pasti bukan kembaran mereka yang mengembara berpindah-pindah agama, melainkan kembaran mereka yang belum ngerti betul iman mereka, kecewa pada skandal yang dibuat oknum dalam komunitas mereka, dan sekali waktu mengambil jarak dari kumpulan murid semata untuk semakin mengerti diri lebih baik lagi.

Lha terus apa kesan lainnya, wong tetep aja pesan Yesus berkenaan dengan kepercayaan Tomas? Taruh tanganmu ke luka-lukaku, dan jangan gak percaya lagi! (Yoh 20,27) Itu kan jelas bahwa Tomaslah yang gak percaya, pantas diidentikkan dengan mereka yang kurang percaya dan minta bukti fisik kebangkitan! Hmmm… Sabar brow. Memangnya teman-teman Tomas itu lebih percaya dan gak minta bukti fisik? Kalau mau fair, kekurangpercayaan Tomas itu mesti dibandingkan dengan keadaan teman-temannya sebelum mereka sendiri mengalami penampakan Kristus dong! Jelas dari bacaan kemarin bahwa murid-murid itu gak percaya pada warta kebangkitan dari perempuan dan murid lain yang mengalami penampakan Kristus. Jadi, kalau mau dilihat soal kekurangpercayaannya, murid-murid lain ya tidak beda dari Tomas. Artinya, murid-murid lain pun ya mungkin juga kurang percaya kalau tidak ada bukti fisik! Mereka juga butuh pengalaman akan kebangkitan Kristus itu.

Begitulah: ini bukan soal kepercayaan, melainkan soal pengalaman. Pengalaman akan Allah menjadi kerinduan setiap jiwa. Tomas merindukan pengalaman itu dan ia menerimanya pada adegan kedua yang pesan pokoknya berlaku bagi semua orang beriman: berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yoh 20,29)! Bagaimana itu terjadi? Seperti kembaran kita, Tomas: meletakkan semua aktivitas fisik pada luka-luka Kristus yang menjadi bagian dari misteri cinta yang memberikan hidupnya bagi kemanusiaan, keselamatan manusia. Umat beriman diundang untuk melihat pengalamannya sebagai bagian dari pemberian total cinta itu sehingga bisa berseru,”Ya Tuhanku dan Allahku!”


MINGGU PASKA II B/1
12 April 2015

Kis 4,32-35
1Yoh 5,1-6
Yoh 20,19-31

Posting Tahun Lalu: Jam Kosong Itu Menyenangkan!

2 replies