Baptis Semua Orang? Yang Bener Aja…

Pernah ada debat intern mengenai misi Gereja Katolik: apakah mesti berujung pada baptisan atau tidak. Ada yang keukeuh bahwa tolok ukur keberhasilan misi adalah jumlah baptisan. Kalau cuma mewartakan kabar baik dan tidak membawa orang lain menjadi anggota Gereja, misi itu mandul. Itu hanya penggembar-gemboran moral yang juga bisa diserukan agama lain. Misi tidak memenangkan orang untuk sungguh-sungguh beriman pada Allah yang hadir dalam relasi dengan Roh Kudus dan Kristus yang telah wafat dan bangkit. Sementara menurut kelompok lain, baptisan tidak bisa jadi tolok ukur keberhasilan misi karena Roh Kudus tetap berkarya melampaui keterbatasan usaha manusiawi.

Pada bagian akhir Injil Matius tertulis: Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (Mat 28,19). Sementara pada akhir Injil Markus yang dibacakan hari ini dirumuskan: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Mrk 16,15-16). Jelaslah para murid memang diutus untuk membaptis. Membaptis siapa? Semua orang. . . . yang mau.

Membaptis-semua-orang tak bisa diukur dengan kategori kuantitas belaka: penduduk dunia sekarang ini 7 milyar, maka 7 milyar itu mesti dibaptis! (Memangnya kalau semua orang dibaptis njuk dunia ini berubah jadi surga po?) Membaptis-semua-orang gak bisa dimengerti sebagai pemaksaan demi bertambahnya jumlah baptisan. Realistis saja: Yesus sendiri minta supaya identitasnya sebagai Mesias tidak digembar-gemborkan karena identitasnya itu bisa disalahpahami termasuk oleh para rasulnya. Dalam bacaan hari ini bahkan dikisahkan bagaimana para murid sendiri tidak percaya pada warta kebangkitan Kristus dan wajarlah Yesus mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka.

Barangkali benar: orang gak bisa memercayai orang lain karena gak punya kepercayaan diri. Begitu pula, para murid tak percaya pada warta kebangkitan karena dalam diri sendiri tidak ada ruang untuk kebangkitan: orang tak bisa mengakui Yesus sebagai Mesias jika ia tak mengalami salib. Demikianlah, Injil Markus memberi ruang pada murid pembaca tulisannya: kebangkitan itu tidak ada ‘di luar sana’, tetapi dalam hidup batin orang. Sayang, tak sedikit umat yang menghayati kebangkitan terpisah dari pengalaman salib. Orang cenderung ndherek mulya tanpa terlibat dalam kesusahan, kesakitan, dan penderitaan. Padahal, Yesus yang bangkit bukanlah Yesus yang mulia, melainkan Yesus yang tersalib.


HARI SABTU DALAM OKTAF PASKA
11 April 2015

Kis 4,13-21
Mrk 16,9-15

Posting Tahun Lalu: Ber-Tuhan Tanpa Agama?

2 replies

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s