Liturgi (Kreatif) Biang Perpecahan?

Para mahasiswa yang hidup di kos-kosan saat ini kiranya mengerti apa artinya tinggal bersama orang lain tapi hidup sendiri-sendiri. Kos-kosan menjadi tempat tidur dan belajar. Mungkin kenal dekat dengan tetangga kamar untuk beberapa waktu, tetapi landasan kedekatan itu biasanya adalah kesamaan hobi atau sentimen primordial tertentu (asal daerah misalnya). Misinya kurang lebih mirip: menyelesaikan studi. Akan tetapi, bagaimana studi itu diselesaikan, biasanya jadi urusan masing-masing, apalagi jika bidang studinya berbeda. Rasanya tak ada l’esprit de corps yang meresapi rumah kos: pemiliknya butuh uang, yang ngekos butuh tempat untuk menyelesaikan sekolah. Ada aturan main tentunya, tetapi jelas bukan bagian dari spiritualitas misi yang hendak dihayati pemilik kos dan mereka yang ngekos.

Petrus dan enam murid lain ada dalam situasi yang kurang lebih mirip. Mungkin pengalaman Petrus bisa diungkapkan sebagai ‘sudah jatuh, tertimpa tangga pula’. Dia gagal memenuhi sesumbarnya untuk mengikuti Yesus sampai mati. Yesus mati, dan ia pun memilih balik ke hidup lama. Dari menjala manusia, ia kembali jadi penjala ikan. Petrus memang berkarakter dan teman-temannya pun mengikutinya. Mau apa lagi? Mereka memang bersama-sama: sama-sama frustrasi, sama-sama gelap, sama-sama disorientasi. Mereka akhirnya mengikuti hobi dan profesi yang sama: balik mancing ikan, profesi lama, hidup lama.

Akan tetapi, setelah sekian tahun tak menjala ikan, semalam-malaman mereka berjerih payah dan hasilnya nihil. Baru ketika hari menjelang siang, mereka mendapatkan ikan karena saran Kristus (yang semula tak mereka kenali sebagai Kristus yang bangkit). Simbol malam dan siang punya makna dalam tulisan Yohanes ini. Semalam-malaman dalam gelap, tanpa campur tangan Kristus yang bangkit, para murid tidak memiliki hasil apa-apa, bahkan meskipun secara alamiah waktu itulah yang semestinya memberikan hasil! Pada saat desolasi, di ambang frustrasi, jika orang hanya kembali ke romantisme hidup lama, ia tak mendapat apa-apa. Keberhasilan baru diperoleh setelah malam lewat, ketika para murid menuruti perintah Kristus. Yohanes mengenali siapa yang memberi perintah itu setelah mereka menyadari keberlimpahan ikan dan kemudian mereka mendekati Kristus yang mengajak mereka untuk makan bersama. Kristus yang bangkit mengumpulkan kembali para murid.

Ekaristi sudah sewajarnya menuntun orang kepada perjumpaan dengan Kristus sendiri. Memang diperlukan juga orientasi dan rambu-rambu yang bisa dijadikan patokan bersama, tetapi sayangnya perjumpaan dengan Kristus tak pernah bisa dikerangkeng dalam patokan Ekaristi, apalagi kekakuan aneka rubrik atau aturan liturgi yang sangat rigid dan mendetail. Para murid itu tahu bahwa yang mengundang mereka makan adalah Yesus Kristus, tapi tak satupun berani menanyakan soal itu. Pokoknya, mereka sama-sama tahu bahwa itulah Kristus yang mereka ikuti.

Perhatian berlebihan terhadap aturan makan pun bisa menjadikan Ekaristi bukan sebagai sumber perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, melainkan sebagai sumber perpecahan umat sendiri. Rasa saya, bukan liturgi kreatif yang jadi problem, melainkan pemaknaan kreativitas yang mungkin terlalu dangkal dan lawannya adalah sikap dingin tanpa nyawa terhadap yang namanya aturan.

Semoga Ekaristi sungguh menjadi sumber kesatuan, kebersamaan dalam perjumpaan dengan Dia yang bangkit, kalau bukan saat Ekaristinya sendiri, ya setelahnya to….


HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKA
10 April 2015

Kis 4,1-12
Yoh 21,1-14

Posting Tahun Lalu: Blusukan ala Kristus