Cinta nan Luntur

Belakangan ini dimunculkan media beberapa sosok yang kiranya punya potensi elektabilitas sebagai calon gubernur di ibukota. Mereka dianggap sebagai sosok yang akan punya banyak pengikut dalam ranah politik kehidupan. Tanpa mempertimbangkan hasil survey mengenai tingkat elektabilitas sosok-sosok itu, tetap bisa kita katakan bahwa tak banyak orang yang punya lingkaran pengaruh kuat bagi orang-orang di sekelilingnya; dan lebih sedikit lagi dari yang berpengaruh itu punya substansi yang sungguh amanah dari Tuhan. 

Wuiiih, nyebut-nyebut Tuhan segala, taunya dari mana je, Mo? Ya dari potensi maslahatnya bagi bonum commune toh, mau dari mana lagi? Semakin banyak calon dari partai jelas semakin banyak sosok pengusung kepentingan partai, bukan keadilan sosial. Loh, memangnya partai gak bisa membela kepentingan bonum commune? Tentu bisa, memakai bonum commune sebagai nama partai juga bisa, tetapi bonum commune itu cuma jadi batu loncatan bagi kepentingan partai! Ujung-ujungnya adalah kepentingan partai. Kalau semua partai dijalankan dengan sikap kooperatif mungkin jadi lain soalnya. Masalahnya, saya curiga, hidup partai dihayati seperti kebanyakan orang menghayati agama: dalam semangat keyakinan bahwa agamanya adalah yang terbaik bagi semua orang! Ini yang juga bikin agama jadi gak mutu: memengaruhi orang supaya ikutan korup.

Petrus adalah karakter berpengaruh. Pada awal narasi teks hari ini dituliskan: Kata Simon Petrus kepada mereka,”Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya,”Kami pergi juga dengan engkau.” Barangkali kalau dia hidup sekarang ini, followernya melejit sampai puluhan juta. Akan tetapi, narasi ini menunjuk pada karakter Petrus yang masih ‘kopong’. Dia memang penggerak banyak orang, tetapi gerakannya sendiri gak mutu. Tujuannya sih jelas, bukan sekadar ubyang-ubyung kongkow-kongkow hahahihi, tapi justru karena tujuannya itulah kita bisa bilang Petrus gak mutu: dia mau kembali ke hidup lamanya sebelum jumpa dengan wong sableng dari Nazaret itu. Jadi, tiga tahun pertemanan, persahabatan dengan orang gila dari Nazaret itu gak ngefek apa-apa! Petrus frustrasi. Setelah hidup biologis gurunya kelar, harapannya pudar, imannya datar, nalarnya modar? Kok isa? Bisa, karena cintanya hambar, jiwanya tergelepar.

Itu beda dengan narasi pada bacaan pertama hari ini. Petrus begitu gagah berani maju ke persidangan bukan sebagai nelayan ikan. Jelas menurut bacaan pertama di situ ada tuntunan Roh Kudus. Akan tetapi, juga dalam bacaan Injil terdapat indikasi kuat tentang elemen yang absen dalam diri Petrus yang frustrasi itu. Ayat 15-19 tidak disertakan pada kutipan Injil hari ini. Isinya adalah dialog Yesus Kristus dan Petrus: apakah Petrus sungguh mencintai-Nya. Ini ditanyakan tiga kali. Saya kira bukan karena Yesus Kristus ingin menyindir Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali. Ini lebih soal penekanan pada pentingnya substansi yang ditanyakan di situ: apakah Petrus memang sungguh mencintai Dia.

Penampakan ketiga ini menunjukkan kekuatan cinta yang menggerakkan orang untuk lepas dari jerat masa lalu. Petrus dan teman-temannya gak jadi mengalami kemunduran. Allah tak membiarkan benih cinta dalam diri mereka mati. Satu-satunya kekuatan, energi yang menyokong mereka adalah cinta kepada Tuhan; dan mereka yang mencintai Tuhan adalah mereka yang mencintai dan melayani sesama mereka: bonum commune.

Tuhan, bantulah kami untuk fokus pada cinta-Mu dalam relasi dengan sesama. Amin.


JUMAT DALAM OKTAF PASKA
1 April 2016

Kis 4,1-12
Yoh 21,1-14

Posting 2015: Liturgi (Kreatif) Biang Perpecahan?
Posting 2014: Blusukan ala Kristus