Takut Salam Damai

Kalau kita ngrasani (ngegosip, membicarakan orang lain) sesuatu yang negatif mengenai orang lain dan tiba-tiba orang yang kita rasani itu muncul, bisa jadi suasana tak enak, menakutkan. Lain halnya jika yang kita bicarakan itu sesuatu yang positif mengenai orang lain, suasananya tidak berubah begitu drastis.

Pada narasi teks hari ini kejadiannya berbeda. Dua murid yang kemarin dijumpai di Emaus kembali ke Yerusalem dan menceritakan pengalaman mereka kepada murid-murid lainnya. Pada saat mereka membahas hal itu, Yesus Kristus nongol dan mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Padahal di awal sudah disapa dengan salam damai alias assalamualaikum! Mosok salam damai malah bikin takut? Problemnya pasti bukan pada salamnya, melainkan pada disposisi batin orang yang mendengarnya (diandaikan yang mengucapkannya bukan teroris atau orang yang diserupakan dengannya).

Disposisi batin orang macam apa yang membuat salam damai jadi menakutkan?
Para murid itu sedang berkumpul di ruang atas dengan pintu yang terkunci karena mereka memang takut. Pasca kematian guru mereka, rumor masyarakat tentang kelompok mereka bisa jadi membawa konsekuensi buruk. Tak ada guru yang bisa mereka andalkan. Ini ketakutan yang bisa kita pahami: berapa kali kita menutup hati karena takut kehilangan sesuatu!

Tapi agak aneh, Romo, kok bisa dibilang takut kehilangan sesuatu? Para murid itu takut kehilangan apa wong mereka memang dalam keadaan kehilangan guru mereka yang mati? Mereka mengunci diri karena sudah kehilangan guru mereka je! Takut kehilangan apa lagi? Ya takut kehilangan ilusi-ilusi mereka, takut kehilangan gagasan mereka tentang Mesias, takut kehilangan masa lalu yang indah, takut kehilangan pengikut, dan sebagainya. Mirip dengan pengalaman Maria Magdalena yang dilarang menyentuh Yesus, para murid juga belum terlepas dari belenggu gagasan mereka sendiri tentang Mesias, tentang Yesus, tentang kebangkitan.

Mereka pikir kebangkitan Yesus itu seperti hidupnya kembali Lazarus, yang memang juga sudah sesuatu banget dan bikin heboh. Mereka tak bisa melepaskan gagasan macam itu untuk memahami kebangkitan dengan makna baru: penampakan boleh sama (luka pada anggota badan, fungsi biologis yang kembali normal), tetapi status hidupnya berbeda, menjadi ilahi. Menjadi ilahi yang ditampakkan Yesus bukan malah melenyapkan yang material, melainkan justru menjadi semakin insani: yang insani, yang biologis, direorientasikan untuk kemuliaan Allah semata. Reorientasi ini tak bakal jalan kalau para murid masih takut kehilangan apa yang dulu membuat mereka nyaman.

Iya sih, ketakutan memang gak cocok dengan penghayatan AMDG; ketakutan membuyarkan penghayatan kesucian. Mungkin juga ketakutan menyumbat kerohanian sehingga iman itu cuma tinggal di kepala dan omongan doang.

Tuhan, semoga roh kebangkitan membebaskan kami dari aneka ketakutan untuk membangun budaya kehidupan. Amin.


KAMIS DALAM OKTAF PASKA
31 Maret 2016

Kis 3,11-26
Luk 24,35-48

Posting 2015: Iman Infantil
Posting 2014: Ujung-Ujungnya Apa Nih?