Target Mengalahkan Ahong

Sudah terlalu mainstream ungkapan “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda” dan mungkin orang perlu membiasakan diri juga dengan ungkapan sebaliknya: kesuksesan adalah kegagalan yang tertunda. Jika sudah terbiasa dengan kedua ungkapan ini, orang akan tersadar bahwa kategori sukses-gagal tak punya relevansi dalam hidup. Ini seperti ilustrasi yang dipakai Tony de Mello untuk mengatakan,”Nasib untung, nasib malang, siapa yang tahu?” Yang menurut seseorang untung, bisa jadi adalah kemalangan, dan sebaliknya. Yang menurut orang proyek mangkrak itu kerugian besar, bagi yang lainnya keuntungan luar biasa. Tinggal tunggu waktu kapan yang melihat keuntungan itu juga melihat kerugian.

Dua murid Emaus begitu sedih dan kecewa pasca kejadian di Yerusalem. Optimisme mereka hancur setelah kematian si guru dari Nazaret. Mereka pulang ke desa dengan suasana hati gelap dan pikiran negatif. Gagal, kalah, ilusi, tak ada kepercayaan. Itulah suasananya. Yesus bukanlah harapan orang Israel. Ia disingkirkan sebagaimana nabi lain juga disingkirkan. Gak ada penyelamatan, tak ada prospek ke depan. Yang benar pasti dibunuh, disingkirkan oleh mereka yang hatinya jahat.

Seperti Maria Magdalena, para murid Emaus ini sedemikian nelangsa sampai pada titik mereka tak bisa mengenali lagi orang yang berjalan bersama mereka. Bukan hanya tak mengenali, melainkan juga merasa sensi atas pertanyaan bodoh yang dilontarkan ‘orang asing’ kepada mereka. Ini peristiwa besar bagi hidup mereka, dan ‘orang asing’ ini tak tak tahu apa yang terjadi! Hiksss… dia tak punya perhatian terhadap hal besar dalam hidupku!!!

Oalah brow, kapan kamu ngerti bahwa Tuhan beberapa langkah lebih maju dari perhatianmu ya? Kapan kamu gak stuck pada bapermu, kesusahanmu, penderitaanmu itu ya?
Memang gak gampang. Orang mesti mempertobatkan hatinya, mendengarkan undangan Tuhan untuk membaca kembali kisah hidupnya dalam terang iman, dengan mempertimbangkan Kitab Suci. Waini susahnya. Orang begitu selektif, mau mendengarkan apa yang dia mau dengar dan begitu ada nada gak enak, mending mlipir nonton sinetron atau main game. Syukurlah, murid Emaus itu belum terbiasa dengan sinetron atau game online sehingga mereka toh mendengar uraian ‘orang asing’ itu yang sudah pernah mereka dengar sebelumnya dan tersentaklah mereka ketika terjadi pemecahan roti. Ini simbol kuat di antara mereka dan si guru dari Nazaret.

Kitab Suci tak pernah menuntun orang pada kesuksesan, atau menjerumuskan orang pada kegagalan. Entah sukses atau gagal, Kitab Suci menyodorkan pemaknaan supaya kualitas hidup orang meningkat. Untung-rugi, sukses-gagal, menang-kalah bukanlah bahasa Kitab Suci pasca kebangkitan. Kitab Suci menawarkan hidup yang dipecah-pecah, dibagi-bagikan, supaya semakin banyak orang yang berpengharapan, beriman, dan cintanya semakin penuh. Tugas guru bukan untuk mencetak anak pintar. Tugas dokter bukan menunda kematian. Tugas pastor bukan meningkatkan pendapatan umatnya (juga bukan meningkatkan pendapatan gereja). Kitab Suci mengundang semua saja untuk meningkatkan kualitas hidup, proses yang tak terukur dengan kriteria untung rugi. Betapa mengerikannya jika kriteria macam itu yang jamak dipakai orang untuk hidup. Kalo cuma mau ngalahin Ahong mah gampang, gak usah bawa-bawa partai, tapi apa artinya selain dari mempecundangi diri sendiri! 

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat meningkatkan kualitas hidup kami di hadapan-Mu dan sesama. Amin.


RABU DALAM OKTAF PASKA
30 Maret 2016

Kis 3,1-10
Luk 24,13-35

Posting 2015: Misa Itu Penting Gak Sih?
Posting 2014: What You Leave In Others

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s