Kutunggu Rindumu

Konon seorang Guru bijak membawa seseorang yang ingin berjumpa dengan Tuhan ke sebuah kali dan menenggelamkan kepala orang itu sampai ia meronta-ronta supaya bisa segera ambil nafas. Orang ini protes karena jauh-jauh datang ke pertapaan secara sungguhan untuk bertemu dengan Allah, tetapi malah dikerjain alias digarapin oleh Sang Guru. Si Guru cuma berkata,”Hanya kalau ada kerinduan kepada Allah sebagaimana kamu meronta untuk bernafas, kamu siap menjumpai-Nya.”

Maria Magdalena punya kerinduan untuk berjumpa dengan Allah seperti orang tadi meronta-ronta menginginkan oksigen. Tentu saja Allah tidak bisa direduksi sebagai oksigen, sebagaimana Allah tak bisa direduksi sebagai Yesus sebagaimana dipahami Maria Magdalena. Akan tetapi, sekurang-kurangnya Maria memiliki kerinduan autentik pada ‘objek’ yang tepat. Pengertiannya masih sesat, tetapi kerinduannya tak salah tempat. Ini bukan soal doktrin, ajaran tentang kebenaran. Maria Magdalena tidak berhadapan dengan ideologi tentang kebenaran. Ia berurusan dengan pribadi yang dicintainya. Yesus, orang gila dari Nazaret itu, yang dipergunjingkan orang dan jadi sumber perbantahan mengenai statusnya, bagi Maria Magdalena pertama-tama adalah pribadi yang dicintainya, bukan gagasan-gagasan tentang kebenaran.

Gagasannya sendiri terbukti kurang tepat. Ia merindukan sosok lama, belum sadar bahwa pribadi yang dicintainya itu adalah ‘makhluk baru’. Gak apa, kesesatannya terkoreksi, dan perjumpaan itu mengobarkannya untuk berbagi kegembiraan, berbagi insight, berbagi relasi. Tidak gampang loh berbagi kegembiraan, entah karena faktor diri sendiri atau lingkungan. Tak sedikit orang yang mau mengklaim inspirasi untuk dirinya sendiri. Tak sedikit orang yang gak demen melihat orang lain bahagia atau maju dalam hidupnya. Maria Magdalena terpantik untuk menjajakan sukacitanya secara cuma-cuma. Mulanya dari kerinduan autentik.

Sayangnya, kerinduan autentik macam ini tak otomatis hadir pada orang-orang beragama. Orang mengatakan ingin berjumpa dengan Tuhan, maka ia pergi ke gereja dan berdoa, tetapi sesungguhnya yang diinginkannya bukan Allah. Ia ingin duit, nama besar, popularitas, kekuasaan, jabatan, pekerjaan, dan sejenisnya. Tentu saja, sebagaimana orang datang pada Sang Guru tadi, ia memang mutlak membutuhkan oksigen (duit, nama baik, pekerjaan, kuasa dll), tetapi ini jelas soal bagaimana oksigen itu mengantarnya pada Allah sendiri. Ketika kerinduan akan Allah itu berganti menjadi kerinduan akan oksigen dan kawan-kawan, orang ada dalam bahaya kemunafikan, dan kerinduannya tak lagi autentik, dan capaian-capaian hidupnya hanyalah idol; pun kalau itu mau disebut heavenly idol, poinnya tetap: menyembah berhala.

Betapa mengerikannya, orang beragama tetapi merindukan berhala! Benih-benihnya tersebar seluas dunia dan media menunjukkan wajah kita, manusia-manusia munafik ini: bangga karena pemimpin tersukses seagama dengan kita (padahal agama bukan tolok ukur penilaiannya), merasa diri hebat karena gubernurnya sealiran dengan kita, merasa punya solidaritas kalau klik share berita-berita bersentimen agama. Olala, Maria, mengapa engkau menangis? Apa yang kau cari?

Tuhan, semoga kerinduan pada-Mu senantiasa menuntun kami di jalan yang benar [dan semoga doa ini juga tidak direcoki dengan ideologi bahwa jalan yang benar adalah agama anu atau inu]. Amin.


SELASA DALAM OKTAF PASKA
29 Maret 2016

Kis 2,36-41
Yoh 20,11-18

Posting 2015: Resurrection: Spiritual Selfie
Posting 2014: Bangkit=Tobat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s