Baper Bikin Blur

Pernah merasa gembira tapi takut? Mungkin pernah ya: ngimpi dapat undian (padahal gak beli kupon) dan senangnya bukan kepalang dan terbangun mau teriak tapi takut mengganggu tetangga sebelah; gembira jalan bareng gebetan tapi takut ketauan papah mamah; gembira diterima jadi calon imam tapi takut jadi imam (tau rasa lu!). Saya tak tahu apakah gembira campur takut macam itu bisa dipadankan dengan kegembiraan bercampur ketakutan yang dialami para murid-murid Yesus pada hari-hari setelah kematiannya.

Dalam beberapa hari ke depan Kitab Suci menyodorkan situasi di seputar kebangkitan Yesus. Yesus hidup, tetapi para murid masih bergulat sendiri antara percaya dan tak percaya, antara mau berbagi kegembiraan dan takut kesaksiannya dipaido alias tak dipercaya; apalagi diperburuk oleh kongkalikong yang melibatkan otoritas kekuasaan. Sudah (1) peristiwanya sendiri seakan too good to be true, masih pula (2) mereka punya ‘beban’ mewartakannya, dan (3) mesti berhadapan dengan kekuatan lawan yang mencari aneka cara untuk menang. Komplet dah.

Mengenai peristiwanya sendiri memang susah dicerna pada saat orang masih terbelenggu, terhubung dengan lukanya: penderitaan, kehilangan, kesusahan, siksaan, trauma, dan lain sejenisnya. Sukacita Kristen mengatasi kesedihan dan tampaknya hanya ada satu cara untuk mengatasi luka itu: jangan mencintai luka itu, hendaknya tidak jadi baper. Masih bisa diingat lagi di sini azas dan dasar: sebagaimana orang tidak menginginkan kesehatan lebih daripada sakit, dia juga tidak menginginkan sakit lebih daripada kesehatan.

Tentu, sumonggo kalau mau baper yang satu: banyak persoalan; tetapi sebaiknya tidak baper lainnya: bawa perasaan.  Baper yang kedua ini bikin baper pertama jadi semakin blur, orang sulit fokus, dan kalau tak bisa fokus, ia juga sulit keluar dari mata rantai kekerasan, balas dendam, prinsip menang-kalah, dan sebagainya. Keadaan ini menyulitkan orang melihat dimensi pewartaan kegembiraan paska: kegembiraan jadi beban, jadi berat, jadi kewajiban semu. Celakanya, keadaan ini adalah makanan empuk untuk orang-orang yang ada dalam ranah kekuasaan dan kekayaan. Apa saja bisa dibeli, termasuk orang-orang yang gembiranya semu tadi.

Dalam konteks peristiwa kebangkitan, orang sulit keluar bergerak mengikuti skema peristiwa kebangkitan: penderitaan, luka, sakit menghambat perjumpaan dengan Tuhan (karena orang tak mengenali-Nya), dan tanda maupun Sabda Allah pun tak membuka mata dan hati yang keras karena tertambat pada duka tadi. Perempuan-perempuan yang disodorkan dalam Injil hari ini punya tugas yang tak ringan: membuat para murid lain jadi yakin, plus berhadapan dengan kuasa korup. Tugas yang tak mungkin dijalankan dengan hati yang setengah-setengah.

Tuhan, semoga kami punya kebulatan hati untuk menghidupi kegembiraan Paska. Amin.


SENIN DALAM OKTAF PASKA
28 Maret 2016

Kis 2,14.22-32
Mat 28,8-15

Posting 2015: Tidur Aja Dapat Duit
Posting 2014: Money Politics In The Bible

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s