Bukan Yesus Yang Mati

Saya pernah dengar bahwa dalam Islam, Nabi Isa tidak digambarkan sebagai nabi yang mati disalib. Yang mati disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa. Hmmm… menarik juga, meskipun gak klop dengan narasi yang disodorkan Kitab Suci orang-orang Kristen. Akan tetapi, keakraban dengan Kitab Suci Kristen tak perlu juga membutakan orang untuk melihat dengan perspektif yang berbeda, bukan?

Kiranya orang Kristen spontan menjawab bahwa kebangkitan yang dirayakan pada hari ini adalah kebangkitan Yesus dari kematian. Apa iya sih? Apa Kitab Suci memang membahas kebangkitan sebagai orang yang mati lantas hidup lagi? Iya, tapi itu cerita tentang anak janda Sarfat yang dibangkitkan Elia, anak janda Nain dan Lazarus sohib Yesus, dan Dorkas yang dibangkitkan Petrus [ya tentu saja Allah yang membangkitkan, lewat Elia, Yesus, Petrus, dll. Itu jelas]! Apakah Paska Kristen bicara soal orang yang mati njuk hidup lagi? Sayangnya, tidak!

Mari lihat baik-baik apa yang dikatakan beberapa teks Kitab Suci. Silakan dicari sendiri pada Kitab Sucinya ya. Di Injil Matius dikatakan bahwa Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawanya. Markus juga menyatakan kurang lebih sama. Lukas menggambarkan lebih eksplisit: Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku.” Dan sesudah berkata demikian ia menyerahkan nyawanya. Yohanes menuturkannya begini: Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah ia: “Sudah selesai.” Lalu ia menundukkan kepalanya dan menyerahkan nyawanya.

Saya gak ngerti dari mana kita menafsirkan bahwa ‘penyerahan’ itu adalah ‘mati’!
Ya kan jelas, Romo, setelah penyerahan itu, fisik Yesus mati!
Hmmm… iya, tapi njuk apa bedanya dengan kebangkitan tokoh-tokoh yang tadi disebutkan itu dong? Metabolisme tubuh berhenti, lalu berfungsi lagi, begitu? Tidak! Kebangkitan bukan soal di seputar kematian orang, soal berhentinya fungsi biologis orang.
Loh, trus apa relevansinya kematian bagi kebangkitan? Kalau gak ada kematian, ya bagaimana mungkin ada kebangkitan? Kemarin dulu katanya tak ada jalan kepada kebangkitan tanpa melalui kematian!

Eaaa betul, tapi itu pasti bukan soal kematian biologis tadi!
Kita ingat Paulus bilang: di dalam Kristus Yesus Allah telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Ef 2). Itu gak bicara soal kematian. Audiens Paulus ya orang-orang yang masih hidup. Ini mirip juga dengan yang disodorkan dalam bacaan kedua: kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Tak ada wacana kematian biologis di situ. Jadi? Kebangkitan justru adalah soal kehidupan! Masih banyak lagi teks Kitab Suci yang menyinggung kebangkitan bukan dengan konteks berpikir soal kematian biologis.

Tampaknya jemaat Kristen awal tidak menaruh kepercayaan pada kebangkitan orang mati, melainkan kebangkitan mereka yang hidup. Mungkin cara berpikirnya rada njelimet: pun kalau percaya bahwa Allah membangkitkan orang yang mati biologis, kebangkitan itu terjadi karena Allah mengkomunikasikan suatu kualitas sedemikian rupa yang bisa mengatasi kematian biologis. Dengan kata lain, Allah memberikan kualitas hidup (yaitu hidup ilahi) yang jauh lebih kuat dari kematian biologis sendiri. Ini kiranya terkait dengan konsep hidup kekal, yang bukan sebagai ganjaran kelak setelah kematian biologis, melainkan suatu ‘cara berada’, style of life yang diliputi oleh kebangkitan Kristus itu. (bdk. Gal 2,20 misalnya).

Gimana cara hidup yang diliputi kebangkitan itu? Mari lihat teks Injil hari ini. Maria Magdalena adalah sosok pertama yang punya pengalaman dengan pribadi yang bangkit. Dia pergi ke makam, berharap bisa memberikan penghormatan bagi cintanya yang mati, tapi malah beberapa kejutan terjadi. Silakan baca teksnya ya. Mungkin bisa dilihat empat karakter orang yang mengalami kebangkitan, yang ditekankan oleh semua Injil: bergerak, berubah, dari dalam ke luar, dari level kematian biologis ke kualitas hidup.

Orang perlu bergerak, terbuka pada perubahan perspektif, keluar dari orientasi diri, hidupnya lebih hidup!

Tuhan, semoga kami Kaumampukan menyatakan kebangkitan-Mu. Amin.


HARI RAYA PASKA KEBANGKITAN TUHAN
27 Maret 2016

Kis 10,34a.37-43
Kol 3,1-4
Yoh 20,1-9

Posting 2015: Selamat Paska, Jangan Lelah
Posting 2014: Bukan Bukti, melainkan Saksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s