Malam Paska: Salah Alamat?

Dalam kultur patriarki, perempuan tak mendapat tempat penting, bahkan cenderung diabaikan. Menariknya, bacaan Injil untuk perayaan Malam Paska tahun ini menyodorkan kisah yang tampaknya berprotagonis perempuan. Disebutkan tiga nama (dua Maria dan satu Yohana), tetapi juga ada perempuan-perempuan lain yang disinggung. Seolah-olah secara sepintas bisa kita petik pesan penginjil bahwa Allah bahkan memakai kelompok orang yang tak punya posisi penting dalam masyarakat untuk menyampaikan pesan-Nya. Maka, kelompok perempuan ini malah jadi penting. Hmm… ya ya ya, silakan saja kalau mau buru-buru mengambil posisi membela perempuan, tetapi mohon dilihat bahwa jebulnya dalam kisah itu perempuan itu ditegur oleh orang yang pakaiannya berkilau-kilauan: kalian ngapain ke sini? Kalau mau cari Dia yang hidup ya jangan ke sini!

Yah, salah deh! Sudah begitu, setelah mereka berkasak-kusuk dan mendiskusikannya dengan perempuan-perempuan lain lalu pergi kepada murid-murid Yesus, mereka tak dipercaya! Kasian deh, ya mau bagaimana, namanya juga kultur patriarki, tetap saja perempuan terpojokkan. Akan tetapi, para perempuan tak perlu benci-benci amat pada kultur patriarki karena toh pasti ada juga laki-laki yang dalam hatinya menaruh kadar kepercayaan tertentu kepada warta perempuan yang dikenal suka bergosip ria itu. Petrus bangun dan cepat-cepat pergi ke kubur yang jadi TKP dalam laporan perempuan-perempuan itu, dan mungkin betullah apa yang dikatakan perempuan-perempuan itu, ia tak melihat jenasah Yesus di makam. Petrus bertanya dalam hatinya ada apa dengan jenasah Yesus.

Dari informasi penginjil lain bisa kita ketahui bahwa kain kafan dan kain peluh tertata rapi dan ini bisa melayangkan ingatan kita pada bacaan pertama versi panjang mengenai kisah penciptaan: penciptaan adalah penataan atas keadaan yang belum berbentuk. Tindakan Allah tidak membuat chaos, melainkan menata situasi chaos. Gagal paham atas prinsip ini takkan bisa menjawab pertanyaan Petrus tentang apa yang terjadi dengan makam kosong dan jenasah Yesus. Para perempuan lebih cepat mengerti karena memang mereka diingatkan oleh orang yang pakaiannya berkilauan. Petrus, seperti biasanya, mengandalkan dirinya sendiri, pemikirannya sendiri, belum juga ngeh dengan apa yang sudah berkali-kali dikatakan Yesus sendiri. Ya maklum, gak nyimak sih.

Tapi daripada menyalahkan Petrus, lebih baik kita lihat kesalahan perempuan, hahaha… (Romo ini gender abis ya hari ini!) Kesalahan yang kita perlukan (seperti dosa yang membahagiakan): dari perempuan-perempuan itu kita tersadar bahwa kita kerap mencari di tempat yang keliru. Salah alamat! Cari bukti kebangkitan kok di kuburan. Cari Tuhan kok mengakrabi kultur kematian. Cari damai kok memelihara sikap superior alay. Cari rezeki kok dengan modal dengki, laksana berprestasi dengan iri hati. Cari cinta kok cuma minta.

Seperti telur yang memberi hidup baru lantaran pecahnya dari dalam, kebangkitan senantiasa adalah gerak dari dalam diri, bukan menuju kepentingan diri nan sempit, melainkan kepada diri yang terkoneksi dengan seluruh semesta.

Tuhan, semoga roh kebangkitan-Mu menyulut api dalam diri kami untuk mengobarkan cinta di dunia. Amin.


MALAM PASKA C/2
26 Maret 2016

Kej 1,1.26-31a
Kej 22,1-18
Kel 14,15-15,1
Yes 54,5-14
Yes 55,1-11
Bar 3,9-15.32-4,4
Yeh 36,16-17a.18-28

Rm 6,3-11
Luk 24,1-12

Posting 2015: Don’t Worry Be Happy (Easter)
Posting 2014: Mau Bukti Kebangkitan Kristus?