Jumat Suci: Keheningan Cinta

Tak banyak orang menyukai film yang minim dialog, apalagi tanpa musik, tanpa suara sama sekali. Kalau mau check diri sendiri silakan tonton film Of Gods and Men. Masih ada musik dan dialognya sih, cocok untuk ditonton pada masa-masa sepi ini. Ibadat Jumat Suci kira-kira juga senyap. Umat mendengarkan kisah sengsara yang dilagukan tanpa iringan musik meriah. Barangkali ini semua sinkron dengan apa yang terjadi pada Yesus menjelang jalan salibnya. Sudah diilustrasikan dalam bacaan pertama: dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya (Yes 53,7 ITB).

Menanggung derita tanpa protes ini bisa jadi skandal bahkan bagi orang yang hidupnya ‘lurus’. Kalau orang tidak salah, seharusnya ia berani melawan. Kalau orang difitnah, ya harus berani membantah fitnahan itu. Kalau diperlakukan tidak adil, jangan diam saja, lawan! Kalau diam saja tak melawan, itu pertanda bahwa ia memang salah dan pantas menderita!
Begitulah pola pikir orang yang gak ngeh dengan cinta yang sesungguhnya, fokusnya hanya pada soal berani-takut untuk melawan. Ia ceroboh menyimpulkan bahwa orang yang diam itu takut melawan. Mungkin ia tak tahu bahwa ada demo yang dibuat justru dengan diam. Ada protes yang dilakukan dengan kebisuan. Ada perlawanan yang dibuat dengan pembangkangan senyap: terserah apa kata lu, gw diemin aja pokoknya gw buat apa yang gw mau!

Ya, tapi apa Yesus itu sedang membangkang, wong dia tidak sedang demo? Betul, Yesus tidak melawan, tetapi bukan berarti ia takut atau memakai jurus pasif agresif,”Lihat saja nanti, tunggu waktu kiamat, bakal tahulah kamu bahwa aku yang benar! Pada saat itu kamu sudah terlambat!” Metode yang dipakai Yesus sinkron dengan substansi yang diwartakannya: cinta.

Adakah cinta yang dihayati dalam gerutu? Adakah cinta yang dipupuk dengan cemburu? Adakah cinta yang dikuatkan dengan ketidaksabaran? Adakah cinta yang ditebarkan dengan kebencian? Adakah cinta yang muncul dari ketakutan? Adakah cinta yang semakin berkembang dalam kebisingan? Adakah cinta yang landasannya kekuasaan? Ya ya ya, tahu, Romo, tapi cinta kan gak sinkron dengan ketidakadilan! Cinta itu adil, jadi gak bisa dong kita diam di hadapan ketidakadilan. Betul, tetapi keadilan tak diperoleh dari pendekatan kekuasaan, entah aktif atau pasif. Maka, jalan cinta yang ditempuh Yesus adalah jalan senyap, berangkat dari kebebasan yang tak bisa ditundukkan oleh jenis kekuasaan selain kuasa Allah sendiri.

Jalan senyap ini memang memuat dukacita mendalam tetapi dalam senyap ini juga terlukiskan kesetiaan cinta. Injil Yohanes tidak menggambarkan kegagalan para murid, tetapi menunjukkan orang-orang dekat Yesus yang setia di sekitar salibnya. Tak banyak kata terucap, dan keheningan dalam derita mereka mengafirmasi cinta dalam wujud termulianya: Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15,13 ITB).

Tuhan, mampukanlah kami untuk memberikan nyawa supaya api cinta-Mu semakin berkobar. Amin.


HARI JUMAT SUCI
25 Maret 2016

Yes 52,13-53,12
Ibr 4,14-16;5,7-9
Yoh 18,1-19,42

Posting 2015: A Faith that Never Dies
Posting 2014: Good Friday: The Turning Point

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s