Turut Berdukacita

Berapa banyak kawan yang bertahan bersama Anda pada saat Anda mengalami titik terendah dalam hidup Anda? Tidak banyak. Itu tidak mengherankan, dan tak perlu juga Anda tafsirkan bahwa mereka yang tak bertahan bersama Anda itu bukan kawan yang sesungguhnya. Mereka hanya melakukan apa yang mereka (perlu) lakukan. Bisa dibayangkan bagaimana jika 4999 penggemar Facebook Anda berada di rumah Anda, ikut bersama Anda dalam masa susah, duka, terpuruk! Anda tak hanya butuh rumah, tetapi stadion!

Mungkin bisa diterangkan juga dengan relasi Yesus dan para muridnya ketika ia meregang nyawa di kayu salib: para murid kocar-kacir. Apakah mereka jahat dan bukan kawan Yesus yang sesungguhnya? Tentu bukan itu persoalannya. Bisa jadi mereka begitu takut: takut tak mengetahui bagaimana menangani situasi sulit, takut terlibat dan sedih, dan sebagainya. Memang dalam masa-masa sulit yang kita butuhkan adalah orang-orang yang memiliki arti dalam hidup kita, tapi sayangnya orang-orang itu juga membutuhkan hal-hal lain yang bermakna bagi hidup mereka dan ini menimbulkan konflik ruang dan waktu.

Daripada runyam membahas manajemen konflik dalam dimensi ruang waktu itu, kiranya lebih berbuah melihat dukacita Maria dan Yesus yang sekarat di kayu salib. Maria bergumul dengan logika salib dan ia bertahan di bawah salib Yesus, bertahan dalam iman bahwa pada saatnya Allah menunjukkan keselamatan-Nya. Yesus pun punya pergumulan dengan logika salib itu dan ia bertahan di kayu salib sampai pada kesudahannya. Akan tetapi, mari lihat sosok Yesus yang dalam dukacitanya bersama Maria tidak mencari penghiburan bagi dirinya sendiri, malah memikirkan kawanan orang yang masih terus berziarah mencari Allah.

Penderitaan Yesus memang ditandai dengan kekerasan dan pengkhianatan, tetapi sekaligus merupakan nyanyian kehidupan. Dari ketinggian salib, ia sungguh punya keprihatinan pada jalan ke depan dari para murid maupun ibunya. Pada diri Yohanes itu ada wajah kita juga, dan Yesus memercayakan kita kepada Bunda Maria, dan sebaliknya. Ini adegan kecil yang merupakan kemenangan salib atas kematian, buah salib: cinta yang lebih kuat daripada kematian. Ini tanda awal kebangkitan juga. Di ketinggian salib, datanglah kekalahan hukum cinta diri dan mulailah persahabatan dan keluarga baru: keluarga kecil, yang disatukan bukan oleh darah dan daging, melainkan oleh cinta Kristus yang tersalib.

Lagi-lagi, ya Tuhan, semoga aku semakin mampu memahami logika salib suci-Mu dan dalam dukacita bersama Bunda Maria, berani membongkar aneka kepentingan narsisistikku demi Cinta yang jauh lebih besar. Amin.


HARI SELASA BIASA XXIV B/1
Peringatan Wajib SP Maria Berdukacita
15 September 2015

1Kor 12,31-13,13
Yoh 19,25-27

Posting Tahun Lalu: Speechless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s