Speechless

Pengalaman speechless yang saya bagikan pada posting What is God kiranya menunjukkan dua rupa misteri Allah bagi manusia: tremendum dan fascinosum (baca: fasyinosum). Rupa tremendum adalah rupa ‘menakutkan’ yang cenderung dihindari, ditolak, dijauhi oleh manusia. Sedangkan rupa fascinosum menunjuk gerak kebalikannya: manusia cenderung tertarik untuk semakin mendekat karena keterpukauannya. Ayah Sogo mengeksplisitkan reaksi terhadap rupa tremendum: ia stress berat dan kiranya tak mampu mengunyah misteri kematian anaknya. Ibu Sogo menanggapi rupa fascinosum yang mengantarnya untuk bertanya dari kedalaman hatinya: apakah Allah itu sehingga hasrat putera tunggalnya begitu besar untuk mengenal-Nya.

Santa Perawan Maria yang berdukacita kiranya juga mengalami suasana speechless di hadapan misteri kematian anaknya. Kidung Simeon yang disampaikan kepada Maria mendapat realisasinya di sini: suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang (Luk 2,35).

Pantas dicatat bahwa meskipun Gereja Katolik hari ini memperingati Santa Perawan Maria yang berdukacita, dua bacaan dalam Ekaristi tetap berfokus pada Kristus sendiri. Memang Maria (yang mana pun) hadir di sekitar salib Yesus pada saat Yesus mengalami masa paling kritis dalam hidupnya. Akan tetapi, protagonisnya tetaplah Kristus sendiri: Ia masih memperhatikan hidup Maria pada saat sekarat.

Menarik, Ia tidak memanggil Maria dengan sebutan ibu (entah mengapa dalam terjemahan Indonesia dituliskan ibu), tetapi dengan sebutan ‘wanita’ atau ‘perempuan’. Seolah-olah Kristus tidak lagi mengacu pada relasi kandung dengan Maria dan merekomendasikan relasi itu dipindahkan kepada relasi antara Maria dan Yohanes, murid yang juga tetap setia hadir di sekitar Kristus pada masa kritis. Ini jelas adalah rahmat konsolasi yang toh tidak melepaskan orang dari suasana duka cita: orang semakin didekatkan pada Bunda Maria, pada Kristus, pada Allah sendiri.

Ya Allah, berilah kami rahmat kesetiaan pada masa-masa kritis sehingga misteri keselamatan-Mu menjadi nyata bagi kami semua. Amin.


PERINGATAN WAJIB SP MARIA BERDUKACITA
(Senin Biasa XIV)
15 September 2014

Ibr 5,7-9
Yoh 19,25-27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s