Mendua Hati Bikin Galau

Kiranya orang setuju bahwa Jokowi-Ahok merupakan pasangan pemimpin yang memberi harapan akan perubahan karena dedikasi dan kinerja mereka. Orang bisa mengerti fokus mereka sudah mengatasi kepentingan sempit diri maupun partai. Konstituen mereka adalah rakyat, bukan partai. Jika itu benar, serangan dan aneka keculasan partai terhadap mereka berdua sebenarnya adalah serangan terhadap rakyat sendiri. Rakyat yang mana? Tentu rakyat yang mendambakan kesejahteraan bersama. Mereka yang cuma pikir kesejahteraan kelompok sendiri, tentu sebisa mungkin berusaha menjegal Jokowi-Ahok dengan aneka dalih (yang mungkin ada benarnya juga, tapi jadi menyesatkan karena ujung-ujungnya duit atau kepentingan sempit).

Intrik-intrik politik seperti itu senantiasa hadir bahkan dalam sejarah Gereja. Kornelius dan Siprianus adalah dua uskup yang berkawan baik meskipun tempat mereka berjauhan: Kornelius di Roma dan Siprianus di Kartago. Pada pertengahan abad ke-3 Kaisar Decius memulai lagi menganiaya orang kristen yang tak mau berpartisipasi dalam upacara penyembahan dewa-dewi kekaisaran Roma. Kemungkinan besar uskup Roma saat itu, alias Paus, juga jadi martir. Untuk menghindari pemilihan Paus baru, Decius gencar menganiaya jemaat kristen. Dalam masa vacuum kepemimpinan Paus itu, kandidat Paus pun rupanya juga menjadi martir.

Seorang imam di Roma, Novatianus, yang punya paham filsafat mengenai pembaptisan kembali (orang kristen yang murtad dalam masa penganiayaan tidak bisa masuk lagi sebagai anggota jemaat tanpa pembaptisan kembali, mereka harus dibaptis ulang!). Sayang, yang terpilih jadi Paus adalah Kornelius. Novatianus gencar menyerang Kornelius, bukan hanya karena ia tak terpilih sebagai uskup Roma, melainkan juga karena ia meyakini ajarannya sebagai yang paling benar. Kornelius, disokong oleh Siprianus yang juga handal dalam teologi, meyakini bahwa jemaat kristen yang murtad karena penganiayaan bisa diterima kembali dalam pangkuan Gereja melalui pertobatan yang tulus dan silih atas dosanya. Novatianus menjadi anti-Paus dan berusaha mencari pengikut, tetapi tampaknya tak banyak yang mengikutinya.

Santo Paulus dalam bacaan pertama menegaskan keragaman anggota Gereja dalam kesatuan. Untuk itu dibutuhkan pemimpin yang memungkinkan satunya fokus: keselamatan yang dari Allah sendiri. Dari mana munculnya kesatuan fokus yang dimiliki Kornelius-Siprianus atau Jokowi-Ahok? Dari compassion terhadap rakyat yang menderita, sebagaimana ditunjukkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini.

Relasi dari hati ke hati menjaga fokus banyak orang yang berbeda latar belakang supaya Allah sendiri yang dimuliakan.
Ya Tuhan, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu.


SELASA BIASA XXIV A
Peringatan Wajib Santo Kornelius dan Siprianus
16 September 2014

1Kor 12,12-14.27-31
Luk 7,11-17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s