Kitab Suci Mana Yang Paling Benar?

Mau jawaban langsung?
Gak ada.
Maksudnya, gak ada Kitab Suci yang paling benar.

Saya berangkat dari Kitab Suci yang saya pakai, Alkitab, yang dipakai baik oleh orang Protestan maupun orang Katolik, dan aneka denominasi atau aliran dalam agama Kristen. Satu teks saja bisa berbunyi A bagi orang Protestan dan berbunyi B bagi orang Katolik. Kenapa? Karena Kitab Suci bukan traffic light yang bisa disepakati semua orang bahwa merah berhenti dan hijau jalan lagi. Pemahaman teks senantiasa masuk dalam ranah hermeneutika dan karena itu niscaya juga ada unsur kepentingan ideologis yang memengaruhi.

Teroris bisa mengambil ayat-ayat Kitab Suci untuk melegitimasi aksinya. Umat lainnya juga bisa memakai Kitab Suci untuk berpoligami secara simultan! Artinya, Kitab Suci diperalat untuk mengesahkan perbuatan manusia. Ini tidak fair. Alquran di Indonesia dicetak dan diedarkan oleh Departemen Agama, misalnya, tetapi itu jelas maksudnya dipakai untuk memahami pewahyuan Allah (Alquran yang sesungguhnya) kepada Nabi Muhammad itu. Alkitab pun demikian. Di Indonesia diterbitkan oleh LAI atau LBI, misalnya, tetapi jelas cetakan itu dimaksudkan supaya pembacanya memahami pewahyuan Allah dalam diri Yesus (Kristus).

Kalau begitu, tolok ukur kebenaran teksnya beda. Yang satu untuk mengantar orang pada wahyu (Alquran) yang diterima Nabi Muhammad. Yang lainnya untuk mengantar orang mengenal sosok Yesus Kristus. Kalau dua teks ini dibandingkan demi penilaian mana yang paling benar, itu jadi seperti membandingkan UUD ’45 dengan peraturan perdana menteri Singapura. Fungsinya beda. Sifat otoritatifnya juga beda. Alquran bagi orang Islam adalah teks yang diimani sebagai wahyu Allah sendiri, sedangkan Alkitab bagi orang Kristen hanyalah petunjuk kepada wahyu Allah, yaitu Yesus (Kristus).

Maka, mungkin jawaban diplomatisnya ialah: Kitab Suci yang paling benar adalah Kitab Suci yang tertera dalam hati umat beriman dan terkuak dalam tutur kata maupun tindakannya. Dengan kata lain, tolok kebenarannya tidak terletak pada teks Kitab Sucinya sendiri, melainkan pada konteks Kitab Suci itu dihidupi orang.

Jika tolok ukurnya diletakkan pada teks Kitab Suci, jelaslah ada banyak inkonsistensi atau bahkan kekeliruan isi dalam Alkitab, seturut konteks kultur historis para penulisnya. Tetapi kekeliruan itu tidak signifikan karena dunia teks Alkitab ialah sosok Yesus Kristus sendiri, bukan soal evolusi, teori penciptaan, astronomi, dan sebagainya. Jadi, kebenaran Kitab Suci hanya bisa diukur dengan seberapa jauh pembaca Kitab Suci itu semakin masuk dalam kedalaman iman kepada Allah (untuk yang Kristen, melalui Yesus Kristus). Repotnya, output kedalaman iman itu adalah tindakan orang. Tak banyak gunanya gembar-gembor kebenaran Kitab Suci sementara menteror, membunuh, memfitnah, menindas sesama, korupsi, dll…

Imam jafar

2 replies

  1. jika anda ingin mengetahui kedalaman agama seseorang, janganlah lihat dari banyaknya sholat dan puasa, melainkan dengan cara ia memperlakukan orang lain.. ?????
    maksudnya bagaimana.?
    sholat puasa itu kewajiban untuk dirinya masing2 cuy. bagaimana saya berpendapat
    jika ada sebuah kaum yang berani berkedok sebagai kaum lainnya
    berarti ajaran agamanya itu tidak baik.itulah yang di sebut kaum munafik.. ( cibran md )

    Like

    • Halo Sdr. Cibran MD, terima kasih berkenan mampir. Paling tepat memang pertanyaan Anda disampaikan kepada penulis ungkapan tersebut (konon Imam Jafar ash-Shadiq). Saya hanyalah orang “asing” yang hendak belajar atau menimba kebenaran dari kebijakan yang beliau sampaikan, karena saya percaya bahwa kebenaran mestilah terbuka kepada semua. Maka dari itu, bukan dengan pretensi bahwa saya tahu segala mengenai kalimat yang beliau sampaikan itu, saya bisa mengerti bahwa nilai suatu kebajikan tidak ditentukan oleh sifat wajibnya, tetapi oleh bagaimana kewajiban itu dijalankan dan buah-buahnya bagi kebaikan bersama. Dua orang anak bisa menjalankan program wajib belajar 9 tahun dengan cara yang berbeda; yang satu dengan keterpaksaan karena tak suka belajar, yang lain dengan penuh semangat karena senantiasa ingin belajar hal-hal baru.
      Anda tentu boleh berpendapat, tetapi valid tidaknya pendapat Anda bergantung pada premis dan kesimpulan yang Anda tarik. Kalau premisnya tidak benar, ditambah cara menarik kesimpulannya tidak lurus, tentu pendapatnya juga tidak kuat. Akan tetapi, bahkan kalau memang orang ingin menyampaikan pendapat yang tidak kuat, siapa mau melarang?
      Salam.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s