Dari Jongos ke Bos

Hari raya Idul Adha baru saja berlalu, tetapi iman Abraham yang dikenangkannya tak selayaknya berlalu. Iman sempurna Abraham semestinya menjadi model seluruh umat beriman. Hanya ketaatan kepada Allahlah yang pertama-tama memberi kualitas iman seseorang, bukan ketaatan kepada detil-detil hukumnya. Hanya ketaatan kepada Allahlah yang pantas membuat orang menjalankan ketaatan buta. Ketaatan buta itu bikin orang melakukan apa saja yang diminta oleh pribadi  yang ditaatinya.

Akan tetapi, bayangkanlah Anda punya karyawan yang menerapkan ketaatan buta tanpa mengenal pribadi Anda dengan baik! Apa akibatnya? Karyawan ini jadi jongos yang tak punya inisiatif, yang sepenuhnya menantikan perintah Anda sedetil-detilnya. Ketaatan buta macam ini membuat Anda tak bisa mendelegasikan tugas dan hanya membuat Anda menjadi mandor. Merepotkan!

Ketaatan buta Abraham hanya masuk akal jika dipahami kecintaannya kepada Allah sendiri. Betul dalam narasi Abraham ditunjukkan bagaimana Allah menunjukkan satu per satu langkah yang mesti dijalankan Abraham, tetapi tidak dalam seluruh hidupnya! Abraham tidak mengambil peran jongos semata. Ia juga menjadi bos atas dirinya sendiri dengan dasar imannya kepada Allah, bukan atas hukum yang muncul kemudian. Apapun yang diminta dari Allah, yang dijanjikan Allah kepadanya, tentulah sesuatu yang baik bagi seluruh umat manusia.

Paulus mengingatkan umat Galatia bahwa dasar keselamatan bukan hukum manusia, melainkan iman seperti yang dimiliki Abraham. Iman seperti ini tidak menyambangi orang dengan kekhawatiran mengenai hukum, yang bisa diplintar-plintir untuk kepentingan tertentu. Iman Abraham memberi ruang bagi inisiatif umat beriman. Maka dari itu, titik berangkatnya bukan lagi mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, melainkan apa yang bisa dilakukan untuk mencintai Allah atau apa yang perlu dibuat untuk mewujudkan cinta Allah dalam hidupku. Pada titik itu, ia menjadi bos atas dirinya sendiri tanpa melanggar ketaatan kepada Allah. Kepada pribadi seperti ini Allah tentu dengan senang hati memberikan delegasi, bukan kepada yang bermental jongos!


JUMAT BIASA XXVII
10 Oktober 2014

Gal 3,7-14
Luk 11,15-26

1 reply

  1. Maka dari itu, titik berangkatnya bukan lagi mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, melainkan apa yang bisa dilakukan untuk mencintai Allah atau apa yang perlu dibuat untuk mewujudkan cinta Allah dalam hidupku..<–mas Brow emang TOP BGT

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s