Keinginan yang melecehkan kebutuhan

Ungkapan “terpaksa minum obat” atau “terpaksa pergi ke gereja” atau “terpaksa puasa” gampanglah dimengerti. Secara instingtif orang menghindari apa saja yang membuat fisiknya tak nyaman. Ini barangkali juga bisa disebut sebagai kemunafikan, tetapi sekurang-kurangnya orang mengerti bahwa ia terpaksa melakukannya karena membutuhkan hal-hal itu. Umat Galatia (biasanya dibaca: galatsia) dikecam Paulus karena mereka justru mengalami setback dalam hidup beriman: lha wong sudah diberi kebebasan batin karena kepercayaan kepada Roh Kudus kok hidupnya masih dibelenggu oleh persoalan seputar “boleh vs gak boleh”.

Memang tatanan masyarakat, juga tatanan umat beriman, memerlukan hukum; tetapi hukum dalam ranah iman adalah rambu, sebagaimana rambu-rambu lalu lintas. Orang bisa saja bersikap masa bodoh atau sebaliknya taat hukum, tetapi keduanya sama-sama bisa merepresentasikan hidup yang dangkal: yang masa bodoh tidak melihat kebutuhan jaminan hidup bersama, yang legalistik tak terbuka pada keterbatasan rumusan hukum dan kompleksitas hidup. Umat Galatia tampaknya masuk dalam golongan kedua ini: mereka mengira bahwa hidup beriman itu soal norma hukum belaka. Keselamatan bagi mereka belum dialami sebagai suatu kebebasan batin karena tuntunan Roh (dari dalam), melainkan sebagai pemenuhan kaidah-kaidah hukum manusiawi (dari luar).

Wacana yang disodorkan Yesus kiranya mengundang pembaca untuk memprioritaskan apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan, lebih dari apa yang diinginkannya. Tentu perumpamaan punya keterbatasan, tetapi metafora yang dipakai Yesus jelas menekankan soal betapa orang yang membutuhkan sesuatu itu bisa dan perlu terus menerus memperjuangkannya. Bisa jadi usahanya itu melanggar sense sopan santun, tetapi orang tak perlu risau sejauh kebutuhannya itu sungguh sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan juga secara sosial.

Drama politik kita sangat kental dengan trend yang sebaliknya: orang-orang mengejar pemenuhan keinginan, nafsu kuasa, hasrat akan harta, dan sebagainya. Keinginan seperti itulah yang melecehkan kebutuhan, baik kebutuhan mereka sendiri maupun kebutuhan bangsa. Akan tetapi, sampai di sini, kata ganti subjeknya tak perlu dibatasi pada ‘mereka’. Semaraknya bangunan mall jangan-jangan hanyalah simtom bahwa kita sudah semakin sulit memilah-milah antara apa yang kita inginkan dan apa yang sungguh-sungguh kita butuhkan. Orang yang sebetulnya hanya butuh kendaraan bisa jadi terkuasai oleh hasrat untuk membeli gengsi merk, misalnya.

Pelecehan terjadi manakala kita memaksakan keinginan kita seakan-akan itu merupakan kebutuhan.

Apa yang kita butuhkan? Roh Kudus (yang membebaskan batin). Apa yang kita inginkan? Roh (main) kuasa! Lha ini… pelecehan.


KAMIS BIASA XXVII
9 Oktober 2014

Gal 3,1-5
Luk 11,5-13