Habisi Gelap Terbitkan Terang…

Ini adalah ringkasan kisah mengenai gelap dan terang yang sebenar-benarnya dari catatan seorang mahasiswa kedokteran UGM, Julian Sunan pada peristiwa bencana Merapi tahun 2010:

Menjelang pukul 00.00 saya rasakan bunyi gemuruh itu semakin keras, semakin dekat, semakin mengguncang…
“Dok, semua pengungsi diminta segera turun ke stadion Maguwoharjo!”
Maguwoharjo? Sungguh tak masuk akal menurut saya, bukankah itu di tepian kota? 25 kilometer lebih evakuasi masif ribuan orang dalam hitungan menit!??
Kepanikan menyeruak, barak Hargobinangun yang semula lelap sontak bangun dalam histeria ancaman bencana. Pengungsi berlarian ke jalan, menaiki angkutan apapun yang kebetulan berada. … Seorang lelaki renta…berdiri kebingunan melihat perebutan…angkutan yang tersedia, mematung tanpa bisa berkata, hingga beberapa anggota TNI mengangkatnya ke atas truk bak terbuka….
Bayangkan, dalam 20 menit 5000 orang telah bergerak dalam muatan penuh sesak yang penuh tangis…
Dalam senyap ambulan kami melaju dan hujan turuh perlahan…setidaknya bila memang itu dapat disebut hujan.
Semula memang tetes air yang menyentuh lengan, namun beberapa saat kemudian tetes itu menghitam dan berubah menjadi bulatan-bulatan besar tepat saat kami memasuki ambulan… Kemudian bukan lagi air yang jatuh dari langit, namun lumpur bercampur kerikil. Ambulan yang bergerak pelan, berjalan semakin pelan karena penyeka kaca depan tak mampu menepis hujan lumpur. Sesekali kami berhenti, menyiramkan air mineral kemasan ke kaca depan, sekalipun sekian detik kemudian kaca itu sudah terpekati pasir kembali. Menit demi menit kami merangkak turun, ke selatan, menjauhi sumber petaka.
Memasuki distrik Pakem, 3 km di bawah Hargobinangun, kami baru menyadari bahwa wilayah itu sudah seperti kota mati, listrik padam, hanya pengendara sepeda motor berjajar di emper toko karena tak kuat menembus hujan lumpur.
Duapuluh ribu pengungsi bergerak sekaligus menembus malam badai. Entah berapa ratus pengungsi yang tercerai dari keluarganya dan berapa lagi yang mengalami kecelakaan di perjalanan mengerikan sekaligus menakjubkan ini…
Lebih dari satu jam perjalanan kami memasuki pinggiran kota, melintasi ringroad menuju Stadion Maguwoharjo. Hujan tak turun sejak kami mendekati kota, tapi debu vulkanik pekat menghambat pandang. Saya belum pernah datang ke stadion itu, hanya mengamati foto, stadion baru yang agak tersendat pembangunannya, landskap absurd di tengah pemukiman penduduk suburban, yang belum disetting sebagai barak pengungsian.
Namun bayangan kelam saya sontak hilang ketika cahaya kemilau itu muncul di depan kami. Layaknya bahtera di lautan kelabu, bangunan besar itu terapung bercahaya, begitu cerah, begitu hangat. Perlahan kami mendekat. Tiga lantai, penuh manusia, dan masih juga dikitari manusia dan kendaraan. Puluhan petugas menyambut dan mengarahkan kami. Perjalanan hitam berakhir, entah kenapa badan kami yang diberati pasir dan debu, seolah terlepas dan menjadi ringan, sangat ringan…

Demikianlah kelegaan yang dialami orang yang bergerak dari kegelapan menuju terang. Kelegaan ini tidak menghilangkan kesusahan orang, tetapi aneka kesusahan itu tak lagi diterima sebagai beban yang membuat jiwa terpenjara, melainkan justru sebagai bagian pengalaman rahmat: orang membangun empati, orang memahami kenyataan di luar dirinya: ….banyak korban tewas di Argomulyo, Cangkringan.. Ya, mengungsi adalah dilema. Mudah bagi mereka berkata “sudah disuruh mengungsi tetap bandel”.. mungkin sang pemberi komentar tersebut sekali waktu perlu mengalami menjadi dan merasakan hidup sebagai pengungsi Merapi.

Mungkin memang orang perlu pengalaman gelap sebelum beranjak menuju terang… Sayangnya, tidak semua orang mau menyadari dirinya ada dalam gelap saat ia mengalami kegelapan itu…


HARI RABU PASKA II

Kis 5,17-26
Imam besar dan kaum Saduki yang begitu iri hati terhadap para rasul menjebloskan mereka ke penjara, tetapi pada malam hari malaikat meloloskan mereka dan waktu subuh mereka sudah masuk ke Bait Allah dan berkotbah di sana…

Yoh 3,16-21
…barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s