Harga Diri Pekerja Martabat Kerja

Gereja Katolik, katanya, menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari peringatan Santo Yosef “Pekerja” pada tahun 1950 (64 tahun setelah kerusuhan di lapangan Haymarket, Chicago). Tiga puluh tahun sebelumnya, sudah ada gerakan di Indonesia untuk merayakan hari buruh pada tanggal 1 Mei, tetapi pada masa Orde Baru perayaan ini dihapuskan karena stigma komunisme terhadap gerakan buruh. Baru pada tahun 2014 ini, May Day itu diakomodasi sebagai hari libur nasional di Indonesia.

Kata labor memang bisa diterjemahkan sebagai buruh (pelaku kerja) atau (aktivitas) kerja.  Akan tetapi, Santo Yosef jelas tidak disebut ‘jongos’, ‘budak’, ‘buruh’ atau ‘karyawan’, tetapi ‘pekerja’. Ini kurang eufimistik daripada kata ‘karyawan’ yang sekarang dipakai untuk pekerja kantoran. Ya tentu saja, Yosef tidak bekerja di kantor; ia tidak bekerja di pabrik untuk bos tertentu. Ia berwiraswasta sebagai tukang kayu dan konon tukang kayu toh mendapat tempat sosial yang baik.

Jika dipertimbangkan sebuah kisah fabel pada relief borobudur mengenai angsa berkepala dua, bisa dipahami bahwa setiap orang memiliki peran dan tempat dalam keseluruhan sistem. Seorang kuli angkut tentu punya peran yang gak bisa diambil alih oleh sekretaris, dan sebaliknya. Masing-masing punya martabatnya. Lha, dari mana martabat itu ya? Apa ya bisa dibuat ranking mana yang bermartabat tinggi dan mana yang rendah? Kalau bisa, apa dasarnya untuk menentukan suatu martabat itu tinggi atau rendah?

Sori, ini bukan kuliah filsafat. Bacaan pertama untuk peringatan Santo Yosef dalam Gereja Katolik diambil dari Kitab Kejadian yang mengisahkan bahwa Allah berhenti mencipta, beristirahat, dan memberkati  hari ketujuh, menguduskannya. Bacaan Injil secara implisit menunjukkan bagaimana Yesus dikenal orang dari keahliannya sebagai tukang kayu, profesi yang tentu diperolehnya dari Yosef sang pekerja. Bukan jenis pekerjaan atau profesi yang menentukan nilai martabat manusia, melainkan manusialah yang memberi nilai pada setiap profesi atau pekerjaan.

Akan tetapi, di dunia ini gak semua berjalan semestinya: ada banyak orang yang terkondisikan secara struktural sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi mampu memberi nilai terhadap profesi mereka justru karena masyarakat memperlakukan mereka seolah-olah martabat manusia ditentukan oleh jenis pekerjaan atau profesi mereka. Orang menganggap rendah pekerja kasar di lapangan dan  karena itu berlomba mengejar profesi yang mereka anggap bermartabat: bekerja di balik meja kantor. Itu juga mengapa ortu dan anak seringkali harus konflik karena ortu menganggap cita anaknya tak punya prospek, Santo Yosef memberi peluang lebar kepada Yesus untuk memaknai pekerjaannya, masa depannya: mau terus jadi tukang kayu silakan, mau jadi seniman tukang kayu penjala ya monggo…

177799_Indonesian_migrant_domestic_workers_in_Hong_Kong(1)Dalam banyak kasus, kemiskinan merupakan hasil pelanggaran atas martabat kerja manusia, entah karena terbatasnya lapangan pekerjaan atau karena perampasan hak-hak dasariah pekerja, khususnya hak atas upah yang layak dan keamanan pribadi pekerja dan keluarganya (Caritas in veritate 63). Kemiskinan struktural ini mengebiri kemampuan orang untuk memaknai pekerjaan atau memberikan nilai kepada profesinya.


Peringatan Santo Yosef Pekerja
1 Mei 2014

Kej 1,26-2,3
“…Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan  yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu…
Mat 13,54-58
Setibanya di tempat asalnya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata,”Dari mana diperolehnya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah dia ini anak tukang kayu? Bukankah ibunya bernama Maria… dan bukankah saudara-saudaranya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehnya semuanya itu?” Mereka kecewa dan menolak Yesus.
Maka Yesus berkata kepada mereka,”Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan Yesus di situ.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s