Hidup sebagai Hadiah

Tak banyak dari Anda yang mengenal Riyanto, yang konon diabadikan sebagai nama jalan di Mojokerto. Saya pun tidak, tapi kisah kematiannya muncul dalam kepala saya ketika saya merefleksikan teks Injil. Loh kok isa? Ya isalah, sukak-sukak yang nongol di kepala toh?

Sekitar 15 tahun lalu, Riyanto gugur di area gereja Kristen karena dia membawa keluar bungkusan bom yang diletakkan dalam gereja berisi ratusan jemaat Kristen. Kisah ini saya kira menginspirasi kemunculan film berjudul “?” (Tanda Tanya). [Mungkin masih bisa melihatnya pada tautan ini.] Njuk hubungannya dengan bacaan hari ini apa je, Rom? Nanti, lewati dulu foto di bawah ini.

Teks Injil yang disodorkan hari ini menelantarkan separuh ayat 28 yang berisi keterangan waktu “Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu”. Apa keterangan waktu itu tidak penting? Ya penting (kalo gak penting ngapain ditulis di Kitab Suci?): membantu pembaca melihat gerak kisah. Gerak gimana sih?

Bagian sebelum kutipan teks ini mengisahkan aneka macam tindakan dan penjelasan Yesus berkenaan dengan pertanyaan orang-orang: Yesus si sableng ini orang macam mana sih? Setelah jajak pendapat terhadap para muridnya sendiri, Yesus menjelaskan bahwa ia akan menderita dan mati mengenaskan. Itu bagian dari identitasnya sebagai Mesias. Tentu saja murid-murid manggut-manggut tapi juga sebenarnya gak ngeh. Penjelasan macam apa itu, wong mati mengenaskan kok disebut sukses sebagai Mesias. Semua orang juga akhirnya mati dalam tragedi: serangan jantung, kecelakaan, usia lanjut, dan sebagainya. Kalau Mesias pun begitu, njuk apa bedanya dengan yang bukan Mesias?

Beberapa murid diajak ke bukit, dan menariknya, dalam teks Matius ini disebutkan pula tujuan ke bukit: untuk berdoa. Di situlah terjadi transfigurasi yang tak bisa dijelaskan secara detil. Pokoknya para murid melihat wajah mulia Yesus, bersama Musa dan Elia, nabi besar Perjanjian Lama, dan kemudian tinggallah Yesus sendirian. Wajah mulia Yesus kembali menjadi seperti wajah orang biasa. Akan tetapi, kalau kita mempertimbangkan ajaran dan Yesus dan sepak terjangnya sebelum dan sesudah peristiwa transfigurasi ini, kita bisa menemukan pesan yang sangat kuat dan lugas, juga dengan melihat bacaan pertama dan kedua hari ini.

Abram mendapat janji Tuhan sendiri: keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, tetapi kebesarannya kemudian tak lagi bisa diukur dengan besarnya perut (yang disinggung oleh Paulus dalam bacaan kedua), dengan besarnya pikiran-pikiran duniawi. Njuk kebesaran macam apa? Kebesaran yang jadi proposal hidup Yesus ini: kemuliaan yang maujud justru dalam penderitaan dan kematian sebagai pengorbanan cintanya.

Maka, kalau mau menerima proposal Yesus, inilah hidup mulia seturut Kristus itu: sudahlah dengan memikirkan diri sendiri itu, jalanilah hidup ini sebagai suatu hadiah Cinta. Cuma orang stres yang membungkus hadiah bagus-bagus untuk diberikan kepada dirinya sendiri. Yesus mendonasikan hidupnya bukan sebagai teroris, melainkan sebagai hadiah belas kasih Allah sendiri.

Riyanto mendonasikan hidupnya. Mereka yang sinis bisa saja menuduhnya sebagai korban indoktrinasi, ideologi pembela agama (dan nama baik NU), kefrustrasian hidup, dan sebagainya. Sumonggo, tetapi begitulah Roh menggerakkan Riyanto dan pemberian hidupnya membuka cakrawala hidup lain: kita semua bersaudara. 

Ya Tuhan, kikislah kepicikan hidup kami. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA II C/2
21 Februari 2016

Kej 15,5-12.17-18
Flp 3,17-4,1
Luk 9,28b-36

Minggu Prapaska II B/1 2015: Abraham Samad-omba
Minggu Prapaska II A/2 2014: Apa Itu Panggilan Suci?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s