Bridge over Troubled World

Sepertinya gak ada orang yang mau jadi Tuhan ya. Kenapa? Soalnya maju cantik, mundur cantik, kena cantik. Tetapi apa yang membuat orang berpikiran bahwa jadi Tuhan itu maju kena mundur kena? Barangkali cuma Bruce Almightyyang sudah pernah mengalami runyamnya menjalankan peran Tuhan, yang tahu alasannya. Pasti runyamlah kalau Tuhan mesti melepaskan manusia dari penderitaan, kejahatan, perang, masa gelap, kelaparan, kegagalan, bencana, dan sebagainya. Runyamlah menata kehidupan dengan tolok ukur manusiawi itu: mesti memilih yang satu, menyingkirkan yang lainnya; memenangkan yang satu, mengalahkan yang lainnya; menyenangkan yang satu, membuat marah yang lainnya, menggusur yang satu, mengakomodasi yang lainnya, dan seterusnya. 

Akan tetapi, tak kalah runyamnya meletakkan tolok ukur Tuhan pada manusia, seperti dianjurkan bacaan Injil hari ini: haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna. Busyet! Wong jadi pribadi yang sempurna saja rasanya sudah mustahil, ini malah bandingannya sempurna seperti Bapa yang di surga sempurna adanya! Ampun ya ampun, piye jal?! 

Janjane ya gak piye-piye. Ayat itu sudah dituliskan sejak Perjanjian Lama (bdk. Kitab Imamat 19,2 atau Kitab 18,13) dan beberapa hari lalu sudah disinggung soal undangan kesucian ini (posting Robohnya Kapel Kami): ini bukan soal kesempurnaan dengan tolok ukur moral, intelektual, atau psikologi kepribadian. Kesempurnaan dengan tolok ukur itu, Bruce Almighty atau Tuhan pun takkan memenuhi syarat. Undangan kesempurnaan pada kesucian ini adalah soal kesempurnaan dalam menyalurkan kehendak Allah. Hmmm… omongnya gampang, seolah-olah seperti menyalurkan produk via vending machine.

Mencintai sesama, meskipun tidak ecek-ecek, juga tak mudah dilakukan. Golden rule, yang bisa dijumpai dalam aneka tradisi religius, bukan juga perkara gampang. Tapi si Yesus ini malah nambahi pe er lagi: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi yang menganiaya kamu! [Sarannya jelas, i.e. doakanlah, tapi tak sedikit orang yang tetap saja bingung gimana ngadepin orang yang senantiasa menyakitinya]

Dengan memenuhi anjuran Yesus itu orang terhindar dari aneka kerunyaman yang tadi disebutkan di awal. Orang terhindar dari sikap selektif terhadap tolok ukur manusiawi. Betul bahwa orang mesti memberi preferensi kepada yang lemah, miskin, tersingkir, misalnya, tetapi bukan dengan cara menyingkiri atau menyingkirkan pihak yang menurutnya membuat orang lemah itu tersingkir. Allah menurunkan hujan baik bagi orang jahat maupun orang baik. Ia tidak selektif, atau kalau mau disebut selektif pun, inilah yang dipilihnya: belas kasih dan pengampunan.

Sudah terlalu sering orang mendoakan para korban kekerasan tetapi tidak mendoakan pelakunya (malah menginginkan kematian atau kecelakaan pelakunya). Orang hampir tak pernah berdoa bagi mereka yang membuatnya menderita dan itulah sebabnya ia sangat sulit memaafkan, mengampuni, dan mungkin tetap tinggal dalam penderitaan. Anjuran Yesus untuk mencintai musuh barangkali bisa dimengerti secara negatif: tidak melihat orang lain sebagai musuh. Kalau sudah terlanjur menganggapnya musuh, dibalik saja: melihat musuh sebagai saudara yang membutuhkan doa.

Begitulah tobat: mendoakan bahkan mereka yang mencederai hidup kita. Dengan begitu, orang membangun jembatan.

Ya Tuhan, berikanlah jiwa besar dan semangat rela berkorban supaya kami sanggup menjadi instrumen-Mu. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA I
20 Februari 2016

Ul 26,16-19
Mat 5,43-48

Posting Tahun 2015: Logika Paradoksal
Posting Tahun 2014: Masih Mau Korupsi? Plis deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s