Robohnya Kapel Kami

Kalau A.A. Navis itu Katolik, ia pasti menulis cerpen berjudul Robohnya Kapel Kami dengan tokoh koster tua renta tanpa anak istri dan cerita sindiran kepadanya bertokoh utama Romo (lafal ‘o’ seperti pada kata oncom – lagi ngidam oncomkah?) Santo (lafal ‘o’ seperti pada kata halo). Saya cuplikkan dialog Romo Santo dan Tuhan sebagai berikut.

Akhirnya sampailah giliran Romo Santo. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
“Engkau?”
“Aku Santo, tapi karena aku sudah menamatkan pendidikan calon pastor di Jawa, Romo Santo namaku.”
“Aku tak butuh nama dan statusmu.”
“Ya, Tuhanku.”
“Apa kerjamu di dunia?”
“Setiap hari, setiap malam, setiap waktu aku menyebut-nyebut nama-Mu, Tuhan, baik sendiri maupun bersama umat senantiasa memuji-Mu haleluya, dalam adorasi maupun Ekaristi! Aku membaca Kitab Suci dan menulis di blog setiap hari supaya Sabda-Mu sampai kepada semakin banyak orang. Aku aktif di medsos supaya pikiran orang lebih terarah kepada hal-hal yang abadi.”
“Lain?”
“Ya, Tuhanku, aku ikut aktif membaharui liturgi dan usulanku diterima KWI dan disetujui Vatikan sehingga seluruh umat dapat kompak seragam menyembah-Mu.”
“Lain?”
“Sudah kuceritakan semuanya, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan aku pun bersyukur karena Engkau mahatahu.”
“Sungguh tak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?”
“Ya, itulah semuanya, Tuhanku.”
“Baik, masuklah kamu.”
Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Romo Santo ke neraka. Romo Santo terkejut, ia tak mengerti mengapa ia dijebloskan ke neraka. Lebih mengejutkan lagi, di neraka itu ternyata ada juga banyak romo, uskup, kardinal, bahkan paus. Umat yang dikenalnya rajin berziarah ke Tanah Suci dan rajin beradorasi juga ada di sana. Ia tak mengerti. Maka, proteslah ia bersama para penghuni neraka lainnya itu.
“Kalian mau apa?”
“Tuhan, kami protes, mengapa justru orang-orang seperti kami yang masuk neraka? Tidakkah Engkau lihat orang-orang lain yang tak pernah beribadat, hidupnya kacau, mencuri, merampok, memperkosa, korupsi?”
“Tak usah banyak cakap. Siapa yang memungkinkan mereka kacau, mencuri, merampok, memperkosa, dan korupsi kalau bukan kalian yang berpikir untuk keselamatan diri sendiri? Apa kontribusi kalian supaya mereka krasan dan nyaman beribadat dan mencintai Tuhan mereka? Pernah kalian sungguh-sungguh perhatikan mereka yang tak punya akses pelayanan rohani semata karena mereka miskin, tinggal di wilayah terpencil dan sulit dijangkau, tak punya koneksi internet?”
Belum lagi Romo Santo membantah, Tuhan sudah menambah,”Kalian giat menertibkan aturan, tapi tak menghidupkan roh yang melandasi aturan. Kalian menegur, tapi tak terima masukan. Kalian bertutur dan berpolah seolah-olah ibadat yang kalian aturlah satu-satunya cara ibadat yang luhur, bahkan satu-satunya cara untuk berhubungan dengan-Ku. Kalian ribut dengan terjemahan, dan tutup mata pada pengalaman autentik orang beriman, bahkan tutup mata pada teriakan yang Kukumandangkan lewat orang-orang kelaparan, tertindas, tersingkir karena kalian bersembunyi dalam tembok jubah, gelar, jabatan atau pangkat.”

Kesucian tak pernah bisa digembok oleh kemapanan, keseragaman, ideologi. Kesucian mencarikan jalan bagi teriakan Tuhan supaya Dia menjadi Allah bagi semua orang, termasuk mereka yang lemah tak berdaya.

Tuhan, semoga kutemukan jalan di setiap momen untuk menggelontorkan cinta-Mu, bukan cinta diriku. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA I
15 Februari 2016

Im 19,1-2.11-18
Mat 25,31-46

Posting 2015: Mau Jadi Kambing atawa Domba?
Posting 2014: Altar dan Pasar: Connected!

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s