Cinta Satu Malam

Ungkapan ‘cinta satu malam’ kiranya jadi populer karena lagu dangdut dengan judul itu. Saya tak yakin apakah itu adalah terjemahan dari one-night stand. Kalau ya, betapa penerjemahnya membuat korupsi hebat terhadap kata cinta: sebagai seks, sebagai sesuatu yang sementara. Rasa saya, tak ada cinta sungguhan yang basisnya seks (meskipun memuat dimensi seksual), dan tak ada cinta beneran yang hanya bertahan satu malam. Bahkan, kalau ada versi extended-nya, yang ada di situ bukan cinta, melainkan exposure. Orang bisa saja jatuh cinta, pacaran, kawin cuma sehari lalu cerai, atau seminggu, sebulan, satu semester, sewindu, dst; tetapi cinta sungguhan tak pernah bisa direduksi sebagai aktivitas seksual dalam hitungan waktu.

Saya jadi ragu bahwa Yesus, yang punya cinta sungguhan itu, benar-benar berpuasa selama 40 hari di padang gurun. Saya percaya ada orang yang bisa hidup tanpa makan dan minum selama sembilan hari, misalnya. Tetapi, 40 hari berpuasa di padang gurun, kok sulit saya terima, dan syukurlah problem itu terpecahkan dengan terang kultur Israel yang memperlakukan angka 40 atau beberapa angka lainnya sebagai ungkapan simbolik lebih dari hitungan aritmatik.  

Angka 40 yang menunjuk pada lama puasa Yesus tampaknya lebih berterima dimengerti sebagai keutuhan cinta Yesus yang teruji mengatasi aneka godaan. Godaan itu sendiri tak hanya berlangsung dalam masa 40 hari itu, melainkan juga mengikuti kelanggengan cinta, setia setiap saat menemani orang yang mau maju dalam cinta. Kalau begitu, bisa dimengerti juga bahwa Paulus menunjukkan tempat puasa dan godaan itu: bukan di padang gurun, melainkan dalam mulut dan hati alias dalam batin. Di kedalaman batinlah cinta terus menerus dimurnikan, diuji, digoda oleh aneka macam wujud roh jahat.

Menarik, bahwa godaan roh jahat itu adalah sesuatu yang mungkin dilakukan orang, bukan sekadar ilusi atau khayalan. Yesus ya mestinya bisa mengubah batu jadi roti, kalo enggakngapain perlu digoda untuk mengubah batu jadi roti? (Bisa juga ditafsir lunak sih: berhenti puasa, makan ajalah gak usah puasa) Mana ada manusia yang tergoda jadi Bandung Bondowoso supaya bisa simsalabim punya bank internasional dalam hitungan hari? Ada juga orang tergoda untuk korupsi, mbayar orang pinter, mencontek alias produksi plagiarisme, karena itu semua memang mungkin dilakukan.

Kalau godaan itu tak mungkin dilakukan, kiranya tidak datang dari roh jahat, melainkan dari diri sendiri: distraksi, ilusi, mimpi, khayalan orang jatuh cinta, dan sejenisnya. Entah dari roh jahat, entah dari diri sendiri, godaan dan distraksi bisa saja melunturkan cinta sejati sebagai sensasi satu malam. Jadi, kalau palentinan melunturkan cinta sebagai kasih sayang terbatas pada perasaan, orang, dan waktu, barangkali kita terdistraksi, tetapi bisa juga jatuh dalam godaan.

Ya Allah, semoga cinta-Mu memurnikan sensasi satu malamku (hayo tadi malam ngapain!), melanggengkan cintaku. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA I C/2
14 Februari 2016

Ul 26,4-10
Rm 10,8-13
Luk 4,1-13

Minggu Prapaska I B/1 2015: Fokus pada Dosa? No Way…
Minggu Prapaska I A/2 2014: Tune in to the Spirit

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s