Fokus pada Dosa? No Way…

Setelah berusia 30 tahun, banyak hal telah dipelajari Yesus: dari tata krama hidup bermasyarakat, ritual keagamaan, ketrampilan menjadi tukang kayu, dan sebagainya. Puaskah dia dengan 30 tahun ngendon di Nazaret? Tidak. Yesus kiranya bukan anak bandel yang suka memberontak. Kenakalan kecil mungkin dibuatnya, seperti ngilang dari rombongan sewaktu pulang dari Bait Allah di Yerusalem sehingga bikin repot keluarganya. Akan tetapi, itu tidak menunjukkan karakter pemberontak. Malah dia menunjukkan orientasi dasar hidupnya: untuk senantiasa dekat dengan Tuhan.

Maka, setelah 30 tahun itu, bisa jadi dalam dirinya muncul dorongan kuat untuk membebaskan diri. Dari apa? Tidak dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini, tetapi dari Injil lain bisa diketahui godaan-godaan yang dialami Yesus dalam puasanya selama 40 hari di padang gurun. Angka 40 sendiri tak perlu dibaca secara letterleijk (sebagaimana bangsa Israel dulu dikisahkan mengembara selama 40 tahun). Ini bukan teks penelitian sejarah. Ini adalah teks Kitab Suci yang ditulis dengan inspirasi Roh Kudus melalui daya-daya intelektual penulisnya. Angka 40 lebih simbolik, sebagai representasi keparipurnaan, totalitas, kesempurnaan.

Maka, Markus tidak menuliskan detil godaan: seluruh hidup Yesus adalah ‘kesuksesan’ membebaskan diri dari jerat setan penggoda yang bekerja siang malam sampai akhir hayatnya. Ini cocok dengan tulisan Lukas bahwa setelah iblis gagal menggoda Yesus, ia mundur dan mencari waktu yang tepat untuk menggoda lagi (Luk 4,13). Godaan ada sepanjang hidup dan padang gurun tak perlu dimengerti sebagai tempat belaka, tetapi juga suasana pergumulan manusia untuk memilih mana dorongan Roh Allah dan mana kerjaan roh jahat.

Maka, sebetulnya Yesus itu sama saja dengan orang biasa lainnya: hidupnya diintai oleh kesusahan dan godaan dalam mengambil keputusan ini itu. Bedanya, ia tak jatuh dalam dosa (Ibr 4,15). Kok isa? Menurut bacaan kedua, karena hidupnya dipimpin oleh Roh. Roh ini yang muncul saat Yesus dibaptis, Roh ini pula yang menuntun Yesus ke padang gurun untuk sebuah probasi, kuliah kerja nyata. Ia sukses karena berfokus pada pertobatan dan pewartaan Injil. Maksudnya?

Fokus pada dosa, apalagi dosa sendiri, bikin orang terperangkap dalam kelemahannya sendiri. Orang mesti membuka diri pada gerak Roh. Celakanya, gerak Roh itu tidak balik ke belakang, melainkan futuristik dan lebih meluaskan wawasan. Maka tobat bukan soal pasang muka muram. Pertanyaan orang yang sungguh bertobat bukan lagi kenapa aku bisa berdosa dan bagaimana aku bisa lepas dari jerat dosa, melainkan apa yang aku mau lakukan supaya Injil itu bisa kuwartakan lewat diriku!



HARI MINGGU PRAPASKA I B/1
22 Februari 2015

Kej 9,8-15
1Ptr 3,18-22
Mrk 1,12-15

Minggu Prapaska I A/2: Tune in to the Spirit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s