Sumur Resapan Doa

Apa faedahnya air hujan yang tidak meresap ke tanah dan cuma numpang lewat ke laut? Dalam skala besar, ia jadi banjir. Di beberapa tempat miring ia melongsorkan tanah. Bukan salah air hujannya jika ia tak meresapi tanah untuk menyuburkannya. Bukan salah langit yang tak pilih-pilih tempat mencurahkan hujannya. Ini soal disposisi, kemampuan bumi untuk meresapkan air ke dalam tanah. Semakin bumi mampu meresapkan air hujan, semakin ia akan menyuburkan tanah, memberi kehidupan pada penghuni bumi.

Begitu pula umat beragama, tak ada faedahnya jika tak berdisposisi meresapkan Sabda Tuhan. Loh, Romo, itu nyatanya orang-orang beragama akrab dengan Sabda Tuhan dan malah jadi teroris dengan bawa-bawa Kitab Suci! Lha ya emangnya mereka meresapkan Sabda Tuhan? O ya jelas toh, mereka benar-benar menerapkan apa yang tertera dalam Kitab Suci kok!

Menerapkan apa yang tertera dalam Kitab Suci tidak sama dengan meresapkan Sabda Tuhanlah, Brow! Kalau Anda sedikit belajar hermeneutika atau suatu seni memahami (klik di sini kalau berminat puyeng sedikit: memaksakan prasangka terhadap teks), Anda akan tahu bahwa orang-orang itu adalah pemerkosa Kitab Suci. Mereka tak sempat meresapkan Sabda Tuhan karena kepala dan hati mereka sudah penuh oleh aneka provokasi dan propaganda dengan iming-iming pahala bidadari. Tak jauh beda dari mereka adalah kelompok militan yang mengafirkan orang selain diri atau kelompoknya, tak mau peduli roh yang hidup dalam sejarah agama.

Disposisi, kemampuan untuk meresapkan Sabda Kebenaran itu juga menjadi suatu necessary condition kalau orang mau berdoa seperti yang diajarkan Yesus hari ini. Apakah ini doa khusus hanya untuk orang beragama Katolik? Ya jelas tidak, wong Yesus mengajarkan doanya bukan kepada orang-orang Katolik atau Kristen! Memang doa itu dipakai dalam ibadat agama Kristen/Katolik tetapi pemakaian itu bukanlah prosedur untuk mematenkan doa yang diajarkan Yesus. Tapi ya itu tadi, doa itu baru bisa diserukan oleh orang yang punya disposisi ala sumur resapan.

Disposisi sumur resapan itu mengasumsikan bahwa air yang ditampungnya mesti disebarkan ke wilayah sekeliling di bawahnya. Ini bukan demi kepentingan sumurnya sendiri, melainkan demi penyebaran resapan air jadi lebih luas. Maka, sebutan “Bapa kami” sudah dengan sendirinya mengandaikan orang yang menyebutnya menerima orang lain sebagai saudara se-Bapa tadi, bagaimanapun Bapa itu mau diistilahkan. Kata ‘Bapa’ dalam bahasa sono memang tak sesederhana ‘bapak’ biologis, tetapi pokoknya mau mengakomodasi harapan dan keyakinan bahwa Allah yang Mahabesar itu sekaligus adalah Allah yang paling dekat dengan manusia. Dan tak seorang pun, tak satu agama pun, tak satu bangsa pun, boleh mengklaim Allah yang seperti itu dengan kata ganti pemilik pertama tunggal!

Di hadapan Allah, kita menghadap sebagai umat, dan di hadapan sesama, saudara, Allah itu adalah sosok Bapa yang menyatukan semua bangsa. Maka, aneka doa permohonan juga dilontarkan dari perspektif ‘kami’: berilah kami rejeki, ampunilah dosa kami, janganlah masukkan kami, bebaskanlah kami… Yesus tak mengajari orang untuk rebutan Allah, rebutan rejeki, rebutan pengampunan. Ia mengajarkan supaya kita berwawasan kolektif (pun kalau mesti dimengerti sebagai kepentingan politis, klik di sini)

Tuhan, semoga kami semakin mampu meresapkan Sabda-Mu. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA I
16 Februari 2016

Yes 55,10-11
Mat 6,7-15

Posting Tahun 2015: The Power of Prayer
Posting Tahun 2014: Lord’s Prayer: Principle and Foundation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s