Paha(la) Bidadari?

Hidup kekal itu sekarang, bukan dulu, bukan nanti. Gagal paham soal ini bisa bikin perang dunia. Syukur, tak semua orang gagal paham sehingga perang sekurang-kurangnya bisa ditunda. Loh, tapi ‘sekarang’ itu kan juga terhubung dengan yang dulu dan nanti, Romo? Bagaimana orang mau koreksi diri kalo gak melihat (kesalahan) masa lalu dan gimana orang mau maju kalo gak punya tatapan masa depan?

Masa lalu dan masa depan adalah soal wawasan dan memang orang perlu berwawasan (maka dari itu muncul slogan think globally). Wawasan mengacu pada keluasan objek perhatian orang, semakin luas kiranya semakin baik. Akan tetapi, hidup kekal bukanlah wawasan. Yang membuat makna hidup jadi mak jleb bukanlah wawasan, melainkan tindakan. Hidup kekal lebih terkait dengan tindakan daripada wawasan. Loh, kok isa, Romo? Tindakan itu kan aktivitas, kegiatan, sedangkan hidup kekal adalah keadaan nanti setelah tak ada kehidupan di dunia ini?

Kalau hidup kekal itu dimengerti sebagai keadaan nanti, kita pakai kerangka waktu linear dan wawasan iman kita pun ikut linear. Silakan cek paham Anda mengenai pahala, karma, ganjaran, do ut des, balas jasa, dan sebagainya. Hmmm…. jadi Romo mau menyalahkan konsep pahala, ganjaran, karma, dkk itu ya?
Enggak, saya menyalahkan tafsiran terhadap konsep-konsep itu yang memakai kerangka pikir linear: hidup sesudah mati, Tuhan menjawab doa, berbuat baik kelak masuk surga, jahat ke neraka, dan lain sebagainya. Lah, kalo gak gitu, gimana?

Contoh saja, rumusan azas dan dasar: manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah, Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Orang cenderung memahami klausa yang dicetak tebal dengan konsep pahala, karma, ganjaran, dkk: kalau kita memuliakan Allah, kita akan dapat pahala, akan masuk surga, akan dijodohkan dengan bidadari (mesakke yang perempuan, dijodohkan dengan bidadara)! Padahal, klausa itu juga (bisa) berarti: dalam tindak memuliakan Allah itulah orang menyelamatkan jiwanya. Ini bukan soal booking kavling, ini soal tindakan yang menyelamatkan jiwa orang. Ini soal tindakan iman (bukan melulu aksi sosial, ekonomis, legal, politis, moral, dkk).

Hidup kekal adalah suasana tindakan mengabdi Allah sekarang ini dan di sini. Tindakan itu bisa berpikir, membaca, berdoa, bekerja, memasak, mengajar, dan aneka macam kegiatan lain yang klop dengan pilihan bacaan pertama hari ini: kultur kehidupan yang terus menerus diserukan Allah. Pahala, ganjaran, balasannya built in pada tindakannya itu sendiri. Paulus pernah menulis kira-kira: upahku mewartakan kegembiraan iman ialah bahwa aku boleh bergembira tanpa upah itu sendiri. Orang berdoa bukan semata demi hasil di luar doa: doa itu sendiri adalah kultur kehidupan yang dijanjikan Allah. Celakalah orang yang berdoa dan hatinya tiada henti risau akan hasil yang tak memuaskan. Celakalah orang yang membaca buku tapi pikirannya sibuk dengan gawai. Celakalah orang nyetrika dan menempelkan setrika panasnya ke telinga saat dering telponnya berbunyi. Itulah pahalanya.

Age quod agis (baca: ajê kuod ajis)! Do what you(‘re) do(ing)! Jika kita luput di sini, pantaslah orang mendoakan,”Ampunilah dia karena dia tak tahu apa yang dia lakukan.”

Tuhan, mohon semangat lepas-bebas dan semoga aneka hasil tak menggoyahkan pengabdian kepada-Mu. Amin.


HARI KAMIS SESUDAH RABU ABU
11 Februari 2016

Ul 30,15-20
Luk 9,22-25

Posting 2015: Gong Xi Fa Cai
Posting 2014: Animus cujusque is est quisque

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s