Tobat: Kembali ke Cinta

Rambu lalu lintas yang multitafsir biasanya memancing kemunculan orang-orang bego’ dan biasanya orang yang waras ‘mengalah’ demi yang bego’ ini. Kita masih ingat polemik rambu S coret dan P coret dan betapa lucunya dunia ini ketika rambu lalu lintas jadi bahan hermeneutika atau penafsiran. Konsensus tak butuh penafsiran; tinggal dipatuhi atau dilanggar; semua sepakat warna merah untuk berhenti, tak perlu diributkan merahnya darah atau jambu.

Seorang kawan yang pernah tinggal di Amerika menuturkan pengalaman kebodohannya, meskipun kawan saya ini tentu pintar, dalam berkendara di sana. Ia memacu kendaraannya melampaui batas maksimum kecepatan di jalur itu karena mendengar berita di radio prediksi turunnya salju dalam setengah jam ke depan. Ia memacu mobilnya supaya tiba di tempat tujuan sebelum salju menebal. Jalanan lengang, tak ada kendaraan di depannya, juga dari arah sebaliknya. Sialnya, di belakang rupanya ada mobil patroli, yang tentu saja mengejar kawan saya ini sehingga berhentilah ia dan mereka terlibat dalam diskusi.

Yang terjadi tentu bukan wacana penafsiran; wong sudah jelas aturannya, ada juga tandanya, dan kawan saya ini melanggar. Keduanya sepakat ada pelanggaran. Tetapi, menariknya, polisi itu bertanya kenapa kawan saya ini melanggar. Kawan saya menjelaskan pertimbangannya. Ia hendak mendahului tiba di tempat tujuan sebelum salju menebal. Pertimbangan ini ditimpali dengan pertimbangan polisi: kecepatan Anda tadi membahayakan diri Anda sendiri; juga kalau salju masih tipis nanti, Anda tetap akan kesulitan mengontrol mobil pada kecepatan itu. Sebaiknya jangan coba-coba menundukkan kekuatan alam.

Pokoknya, kawan saya melanggar, tetapi karena penjelasan kawan saya yang masuk akal itu, polisi hanya menegaskan supaya ia tidak melampaui batas kecepatan maksimum. Polisi mengalah pada kawan saya yang bodoh ini dan tidak menilangnya. Luar biasa! Di Indonesia mungkin itu susah diterapkan karena (1) jarang-jarang ada polisi yang berorientasi pada keselamatan berkendara dan (2) jauh lebih banyak pengendara yang suka berdalih daripada memperhatikan keselamatan berkendara. Kalau pengecualian jauh lebih banyak dari ketentuan hukumnya, njuk apa gunanya hukum itu?

Saya tidak hendak membahas kepastian hukum dan prinsip keadilan di sini, tetapi ilustrasi itu saya pakai untuk memahami sikap Yesus di hadapan hukum. Pada ayat 17 sebelum kutipan teks yang dibacakan hari ini, Yesus bilang begini: Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Yesus tidak mengatakan bahwa ia hendak menyempurnakan Kitab Suci orang Yahudi. Arogan amat sih mau menyempurnakan Kitab Suci? Yesus hanya mengatakan ia mau menggenapinya. Apa yang dimaksudkannya dengan menggenapi?

Kembali ke polisi tadi: ia tidak menghapuskan aturan batas kecepatan, tetapi juga membebaskan diri dari sudut pandang sempit hukum. Bagi polisi ini, persoalannya bukan tilang menilang, melainkan bagaimana menerjemahkan roh hukum itu: Anda justru membahayakan diri dengan kecepatan setinggi itu karena Anda hendak melawan kekuatan alam. Sebaiknya ikuti saja ketentuan kecepatan itu. Polisi itu meletakkan hukum demi keselamatan si subjek hukum. Orientasi polisi macam ini berasal dari belas kasih, cinta. Tobat pun seperti itu: kembali fokus pada Cinta, bukan sibuk memuja diri.

Tuhan, mohon kejernihan budi dan hati. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA I
19 Februari 2016

Yeh 18,21-28
Mat 5,20-26

Posting 2015: Kebenaran Agama vs Iman
Posting 2014: Ruang Tobat dan Pengampunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s