Roma Locuta, Causa Finita!

Saya tak pernah mendengar St. Augustinus mengatakan judul posting ini (baca: roma lokuta, kausa finita). Dia hidup di abad V je, dan belum ada rekaman. Katanya sih waktu itu ada gonjang-ganjing dalam hidup Gereja karena ada ajaran Pelagius yang meresahkan penghayatan doktrin Gereja saat itu berkenaan dengan dosa asal dan rahmat. Pelagius ini punya keyakinan bahwa tanpa bantuan rahmat Allah, orang bisa mencapai keselamatan. Tentu gak sesimpel itu pemikirannya karena nyangkut-nyangkut soal baptisan, kematian, Kitab Suci, dan sebagainya. Pokoknya, Pelagius dinyatakan sesat dan Augustinuslah yang kebagian jatah mendebat ajaran Pelagius. Dalam masa kericuhan itulah keluar ungkapan dengan tagar #romalokuta itu. Maksudnya, kalau Roma sudah angkat bicara, kasusnya selesai sudah. Artinya, Pelagius sesat!

Apakah sekarang ini ungkapan itu bisa dibalik: causa locuta, Roma finita? Bisa aja sih, tapi artinya agama Katolik ‘ancur’ dalam arti kehilangan elemen fundamentalnya. Kasus terus diungkit-ungkit dijadikan bahan keributan dan apa aja yang diomongkan Roma (baca: Vatikan) tak didengarkan: haiya mari ulangi masa awal protestantisme kalau gitu!

Akan tetapi, sekali lagi, blog ini tak punya pretensi mempertahankan agama Katolik (apa perlunya juga?). Concern blog ini ialah menggali Roh dalam Gereja yang bermanfaat untuk kehidupan siapa saja. Untuk itu saya mencuplik ayat yang ada dalam surat pertama Petrus: Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. (1Ptr 5,3 ITB). Betapa mengerikannya kalau mulai dari Paus sampai prodiakon atau ketua lingkungan berlagak seperti “Roma” yang angkat bicara tadi dan mengeksekusinya seolah memberikan mandat! [Eh, ada loh yang sungguh menginginkan jabatan dalam Gereja supaya bisa memerintah orang lain] Ya, mungkin masih bisa ditolerir sih kalau agen-agen “Roma” ini punya keterbukaan atau kepekaan terhadap suara rakyat jelata. Saya kira rakyat jelata juga tak keberatan untuk diperintah. Akan tetapi, kok anjuran Petrus tetap ya: gak usah berlagak seperti pemerintah deh, jabatanmu itu untuk melayani orang lain.

Dari mana datangnya mentalitas memerintah itu ya? Entahlah, untuk tiap orang kiranya beda-beda. Tetapi mungkin teks Injil hari ini ikut memberi kontribusi bagi rasa PD orang-orang “Roma” itu. Setelah Petrus menjawab pertanyaan identitas Yesus, ia dipuji dan malah dikasih kepercayaan. Dalam bahasa Italia, ada permainan kata: Pietro dan pietra. Pietro adalah Petrus itu, dan pietra adalah batu. Yesus menetapkan Pietro sebagai pietra yang di atasnya berdiri Gereja (Mat 16,18). 

Tetapi, ha ini, ini penting! Tak lama setelah itu, ada julukan batu lainnya yang disematkan Yesus kepada Petrus. Silakan lihat 5 ayat sesudahnya: Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia! Petrus sebagai batu karang kita ingat, batu sandungannya kita lupakan.

Itu sudah: yang merasa keroma-romaan sebagai perpanjangan tangan Petrus (paus, uskup, kardinal, pastor, diakon, prodiakon, koster, tim liturgi, ketua lingkungan, anak-anak, bapak-bapak, simbok-simbok, semua saja), sebaiknya sadar bahwa kita bisa jadi batu fondasi, sekaligus batu sandungan alias scandalum

Tuhan, bantulah kami supaya tak jadi batu sandungan bagi Roh-Mu karena pemikiran-pemikiran manusiawi kami. Amin.


PESTA TAKHTA S. PETRUS
Hari Senin Prapaska II
22 Februari 2016

1Ptr 5,1-4
Mat 16,13-19

Posting 2014: Papa Francesco

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s