Taat kepada Allah Mah Gampang

Narasi sederhana tentang Adam dan Hawa menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak sesimple menjawab ya dan tidak pada soal Ujian Nasional. Orang baik mungkin tidak paham kenapa sih orang sudah diberi petunjuk jelas oleh Allah kok ya masih saja berbuat dosa. Sudah diwanti-wanti supaya tidak makan buah yang ada di tengah-tengah taman supaya mereka tidak mati (Kej 3:3), sudah diberi petunjuk Taurat, Yesus Kristus, dan al’Quran, kok ya masih saja berpedoman “aturan dibuat untuk dilanggar”! You maunya apa sih?!

Sebentar, Bos! Kalau mau sabar sebentar, coba lihat lagi kisah Adam dan Hawa tadi. Petunjuk Allah memang jelas, tetapi pelanggaran petunjuk itu terjadinya kapan? Pada saat mereka tidak kontak langsung dengan Allah, ketika Allah ‘absen’ atau sedang jalan-jalan di pinggiran kebun, alias: ketika ada mediasi antara Allah dan manusia. Apa mediasinya? Tafsir ular dan pikiran Adam dan Hawa sendiri. Coba kalau manusia bisa langsung berhadapan face to face dengan Allah, ia pasti manthuk-manthuk alias taat pada Allah. Bayangkanlah Tomas yang, menurut ahli tetangga sebelah semula sesumbar mau mencolekkan jarinya pada bekas luka Yesus, begitu jumpa darat langsung, ia tak butuh lagi syarat yang dinyatakannya dan langsung percaya begitu saja!

Ada sebagian orang yang meyakini diri memiliki akses langsung kepada Allah… ha-sumonggo. Senyatanya, Taurat, al’Quran dan Yesus Kristus pun tetaplah merupakan mediasi. Menaati Taurat tidak otomatis menaati Allah (sebagaimana tunduk pada hukum tak berarti gak bisa menjalankan bisnis narkoba) dan menaati Yesus Kristus lebih problematis lagi, apalagi dalam Gereja Katolik. Kenapa? Karena mediasinya lebih banyak lagi (Tradisi, Kitab Suci, ajaran resmi Gereja Katolik): perang interpretasi tak terhindarkan karena aneka kepentingan ideologis.

Petrus dan para rasul lain tak butuh mediasi selain pengalaman hidup bersama Yesus dan refleksi mereka sendiri. Pengikut Kristus di kemudian hari tidak punya conditioning yang istimewa seperti itu. Bahkan meskipun Augustinus mendapat insight langsung dari Kitab Suci yang dibacanya, ia toh menggumulinya dalam dialog dengan orang-orang lain yang akrab dengan Kitab Suci yang sama.

Klaim ketaatan langsung kepada Allah itu memang gampang tetapi yang dibutuhkan zaman ini ialah ketaatan kepada Allah dalam dialog dengan aneka mediasi. Ketaatan dengan aneka mediasi ini tak mungkin dihayati dengan mentalitas robot yang butuh kalkulasi biner.


KAMIS PASKA II
16 April 2015

Kis 5,27-33
Yoh 3,31-36

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s