Panama Pampers

Pembaca kiranya tahu fungsi pampers sebagai penampung kotoran yang tak diinginkan menjadi pengganggu kenyamanan bernafas. Kotoran itu pada saatnya akan dibuang bersama pampersnya. Kalau kotoran itu diinginkan, dan kalaupun terpaksa dibuang ya sifatnya sementara saja, pasti bukan sembarang pampers yang dipakai. Sebut saja namanya Panama Pampers.

Memang membayar pajak bukanlah aktivitas menarik, apalagi kalau tahu pajak itu jelas-jelas hanya untuk diselewengkan, dikorup oleh petugasnya. Pun, kalau instansi pemungut pajaknya bersih, orang tetap cenderung ‘kalau bisa sih gak usah bayar pajak tinggi-tinggilah’. Realisasinya bisa macam-macam, salah satunya dengan menaruhnya pada Panama Pampers tadi. Halah…. maksa amat sih plesetannya, Mo?

Membayar pajak dengan kesadaran ‘demi memenuhi kewajiban’ memang bikin aktivitas itu kurang tuntas. Ada unsur keterpaksaan, ada unsur formalnya, ada unsur legalnya. Apa itu salah? Ya tidak, memang membayar pajak adalah kewajiban. Akan tetapi, pembaca sendiri bisa merasa-rasakan (sejauh punya rasa dan pengalaman) bedanya antara memberikan beras jimpitan sebagai kewajiban belaka dan menaruh segenggam beras dalam kaleng jimpitan dengan kesadaran turut serta urunan cost yang diperlukan untuk keamanan atau kegiatan lingkungan.

Ini kata Injil hari ini: Jikalau kamu menuruti perintahku, kamu akan tinggal di dalam kasihku, seperti aku menuruti perintah Bapaku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu kukatakan kepadamu, supaya sukacitaku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Iman memang mau tak mau ya ada unsur kewajibannya, yaitu menuruti Sabda Allah, tetapi penghayatan iman yang memberi sukacita penuh tak mungkin hanya dilandasi oleh mentalitas kewajiban itu. Sukacita penuh baru akan terjadi kalau orang beriman rela mencari jalan-jalan baru bagi substansi imannya.

Bacaan pertama memberi contoh bagaimana para tokoh jemaat awal mencari jalan baru itu. Orang Kristen-Yahudi ribut dengan orang Kristen yang non-Yahudi. Sebagai jemaat awal yang paling dekat dengan Yesus, tentu saja orang Kristen-Yahudi cenderung menghayati iman dengan modal Taurat yang sudah mendarah daging sehingga membangun kultur tertentu. Salah satunya ialah bahwa mereka mesti bersunat. Lha, problemnya ialah bahwa orang-orang Kristen itu bukan cuma orang Yahudi. Paulus dan Barnabas sangat getol mewartakan Injil di luar kalangan Yahudi, yang gak kenal tradisi sunat. Ributlah mereka karena soal sunat itu sehingga dibuatlah Konsili Yerusalem itu. Hasilnya?

Sudahlah, jangan membebani orang non-Yahudi, meskipun sama-sama Kristen, dengan kultur sunat. Artinya, sunat bukanlah inti iman Kristen. Akan tetapi, kepada orang Kristen non-Yahudi tetap juga perlu dicamkan supaya memberi respek terhadap kultur Yahudi. Bukan dumeh alias mentang-mentang mereka tak punya kewajiban sunat dan memenuhi tradisi Yahudi lainnya njuk bisa seenaknya saja melecehkan kultur Yahudi. Dalam perbedaan yang tidak prinsip itu tetaplah diperlukan respect, sikap hormat atas pilihan pihak yang berbeda.

Sikap hormat macam ini akan terlanggar dengan sendirinya kalau orang jatuh pada formalisme, fundamentalisme, dan legalisme. Isme-isme itu mengunci orang pada dimensi monolitik kehidupan. Padahal, mana ada sih hidup yang monolitik selain hidup diktator? Allah saja bukan diktator! Dia sungguh memberi ruang kebebasan bagi manusia. Sayang, manusia sendiri yang berpihak pada kecenderungan untuk jadi diktator.

Tuhan, semoga kami senantiasa dapat menemukan jalan baru untuk menjumpai-Mu. Amin.


KAMIS PASKA V
28 April 2016

Kis 15,7-21
Yoh 15,9-11

Posting Tahun 2015: I’m Happy ‘Full’
Posting Tahun 2014: Konservatif – Liberal: Creative Fidelity