Konservatif – Liberal: Creative Fidelity

Institusi hirarki Gereja Katolik belum terbentuk secara definitif bahkan pada saat Pentakosta. Baru ada pembagian tugas sederhana (penatua, tujuh ‘diakon’, para rasul) di antara jemaat perdana demi menyokong tugas pewartaan para rasul. Akan tetapi pada masa itu sudah ada kesepakatan tak tertulis bahwa problem fundamental pewartaan mesti dibicarakan dengan para rasul yang punya otoritas pengajaran iman di Yerusalem, tempat asal gerakan pewartaan para rasul.

Bacaan pertama hari ini menceritakan Konsili I di Yerusalem. Masalah utama yang dibahas: apakah Hukum Musa bagi orang Yahudi juga harus diterapkan bagi orang non-Yahudi. Konkretnya, apakah laki-laki non-Yahudi yang dibaptis juga harus disunat. Keputusannya jelas, meskipun Hukum Musa perlu dijunjung tinggi, umat beriman haruslah lebih mematuhi Hukum Allah sendiri yang tidak membeda-bedakan bangsa. Orang Yahudi yang pertama mendapat pewartaan Kristus tidak otomatis lebih suci dari bangsa lain, tetapi juga sebaliknya.

Bacaan Injil menganjurkan supaya orang tinggal dalam cinta Allah sendiri. Caranya? Menaati perintah Allah yang tertanam dan bertumbuh dalam hati orang. Tentu itu bukan perkara mudah jika sudah masuk dalam persoalan kelembagaan. Orang pada umumnya jatuh pada liberalisme atau konservatisme tetapi sasarannya meleset.

Idealnya sih orang mesti konservatif terhadap hukum Allah tetapi liberal terhadap hukum manusia. Lha kenyataannya, lebih sering orang konservatif terhadap bentuk (form: maka dari itu muncul formalisme) dan malah liberal terhadap isi. Ini yang bikin aneka keributan: orang-orang muda liberal gak bakal ketemu dengan orang-orang tua konservatif justru karena orang tua ingin bentuknya seperti yang sudah-sudah. Padahal, jika orang tua berhasil mengupas isi dengan bentuk yang baru, bukannya tidak mungkin anak muda pun mau menerimanya. Pola seperti ini yang justru memunculkan suatu creative fidelity. Contohnya pabrik obat. Mereka bikin obat batuk, yang substansinya sama, tetapi mesti dibuat dalam bentuk dan komposisi yang berbeda untuk macam-macam segmen (anak-anak dan dewasa misalnya).

Saya dengar perdebatan mengenai EKM (Ekaristi Kaum Muda). Bisa jadi, seteru muncul karena ada pihak yang konservatif tetapi salah sasaran: hanya bicara  dan berangkat dari tata ibadat. Orang seperti ini punya fidelity tetapi tidak kreatif, bisa jadi imannya pun hanya muncul dari pembiasaan kewajiban tanpa penghayatan personal (seperti iman gosok gigi: rasanya gak plong kalau gak ke gereja hari Minggu).

Akan tetapi, seteru itu juga langgeng karena yang liberal salah sasaran: gonta- ganti bentuk tanpa bertolak dari isi Ekaristi, melainkan entertainment. Jadilah tiru-tiru, dan bukan kreativitas. Creative fidelity terjadi jika orang menangkap inti perayaan Ekaristi sebagai perayaan syukur kolektif umat beriman dan mengungkapkannya seturut bentuk yang mencirikan segmen jemaat tertentu. Jadi, mengapa visualisasi atau tarian harus dipersoalkan jika ‘peserta’ Ekaristinya adalah orang-orang enerjik yang bisa mengungkapkan iman penuh syukur mereka dengan gerak dan lagu?

Saya kira, jauh lebih baik Gereja Katolik akomodatif terhadap bentuk ungkapan syukur daripada memelihara konservatisme tata ibadat! Artinya, kalau setiap minggu sudah ada tata ibadat biasa, mengapa tidak sekali dalam sebulan dibuat perayaan yang akomodatif untuk bentuk-bentuk kreatif dan gak perlu menghakiminya sebagai bentuk penyelewengan cinta kepada Allah? Yang penting, setiap kali jemaat harus mendialogkan antara substansi dan bentuk ungkapan sebagaimana dibuat dalam Konsili Yerusalem I.


KAMIS PASKA V
22 Mei 2014

Kis 15,7-21
Yoh 15,9-11

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s