Gak Usah Ngotot

Klaim universal agama punya potensi menuntun penganutnya pada fanatisme. Fanatisme agama ini bisa bergerak ke luar, tetapi juga bisa bergerak ke dalam. Yang ke luar menuntun orang pada arogansi institusional keagamaan terhadap agama yang lain. Penganut agama Kristen yang fanatik menganggap agamanya lebih baik dari agama Yahudi, apapun alasannya. Sebaliknya, penganut agama Yahudi bisa saja merasa agamanya lebih baik daripada agama Islam, bagaimanapun penjelasannya.

Fanatisme yang ke dalam mengarahkan orang pada arogansi kultural dan ideologi keseragaman (uniformitas). Fanatisme macam ini sudah terjadi bahkan gak lama setelah Kristus tidak tinggal secara badaniah bersama para rasul. Sebagian pengikutnya memiliki fanatisme kultural ini sehingga mereka wartakan bahwa keselamatan baru bisa diperoleh kalau pengikut Kristus disunat, misalnya.

Di situ ada persoalan. Dalam bacaan Injil Yesus sudah mengantisipasi bahwa setelah kepergiannya, para murid pastilah kehilangan ‘pegangan’ atau ‘tambatan hati’. Dalam keadaan seperti itu, mereka juga bisa tergoda untuk meninggalkan Yesus dan kembali ke pegangan lama, budaya lama, kebiasaan lama: kultur yang ditawarkan Musa. Oleh karena itu, Yesus meminta para muridnya supaya tetap tinggal bersama pokok anggur, yaitu Yesus Kristus sendiri.

Tinggal dalam Kristus ini tidak mungkin terjadi jika orang punya kelekatan kultural, apapun bentuknya, apalagi fanatisme kultural. Pada awal kemunculan institusi Gereja, memang bisa dimaklumi terjadinya kemunculan fanatisme kultural seperti itu karena biar bagaimanapun Kristus memang hadir dalam kultur tertentu. Tentu mereka harus memilah-milah mana Roh Kristus sendiri dan mana yang merupakan kultur atau tradisi Yahudi.

Zaman sekarang lebih runyam lagi karena yang perlu dipilah lebih banyak lagi. Kenapa lebih banyak? Ya karena kultur yang merasuk dalam ajaran Kristiani jauh lebih banyak lagi: kultur Roma, kultur Jawa, kultur Vatikan, kultur Amerika, dll. Dalam arti tertentu memang dibutuhkan keseragaman yang bisa mengatasi perbedaan kultur, tetapi keseragaman bukanlah segala-galanya.

Sebetulnya apa masalahnya dengan keseragaman sih? Bukankah asik juga melihat tarian yang kompak teratur rapi?

Ya memang menyenangkan juga melihat unsur kesamaan yang massal, tapi ada juga keindahan dalam keanekaragaman warna suatu taman (coba bayangkan Taman Bunga Nusantara hanya punya bunga warna kuning semua!). Keseragaman merupakan sesuatu yang indah jika dasar atau pondasinya adalah kesatuan dengan Kristus sendiri, bukan kelekatan pada kultur atau nilai keseragaman itu sendiri.

Seorang anak bisa sedemikian asik dengan seragamnya ke sekolah, sampai ia lupa membawa tugas PR yang lebih penting. Seorang imam bisa asik sibuk dengan tata ibadat sampai tak pernah lagi berdoa pribadi. Begitulah, seringkali orang mengutamakan keseragaman dan menomorduakan relasi pribadi dengan Kristus sendiri. Orang yang begini ini malah lekat pada budaya agama, tapi tidak lekat pada Kristus… jadi gak indah deh….401023


RABU PASKA V
21 Mei 2014

Kis 15,1-6
Yoh 15,1-8

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s