Persahabatan bagai Vacuum Cleaner?

Ini daur ulang mati ketawa Jawa Timuran. Kapan dino tau ono salesman vacuum cleaner teko nak omahku. Rewangku durung sempet ngomong opo opo, moro salesman iku langsung nyebarno tembelek wedus ndek karpet.
Jarene ngene,”Wes pokoke bu, lek sampe
vacuum cleaner iki ga iso nyedot, tak jamin, tak emploki situk situk tembelek wedus kuwi”
Jare rewangku,”Sampeyan kepengen ngemploke didulit sambel opo karo krupuk?”
“La opo o Bu, masalahe?” salesman kuwi takok.
“Lah sampeyan ga ndelok ta saiki mati listrik?”

Seperti gawai dan chargernya, vacuum cleaner juga butuh arus listrik supaya berfungsi. Tanpa arus listrik itu, niscaya alat-alat itu tak bisa berjuang bagi nusa dan bangsa. Akan tetapi, analogi relasi arus listrik dan vacuum cleaner itu rasa-rasanya tetap kurang jos daripada analogi yang dipakai Yesus sendiri untuk menggambarkan hubungan antara dirinya, murid-muridnya, dan Allah Bapa di surga. Ia memakai analogi pokok anggur dan ranting-rantingnya. Allah membuang ranting yang tak berbuah (karena getah sari makanannya mengalami blokade pada ranting) dan membersihkan ranting yang menghasilkan buah.

Substansi relasi antara Yesus dan murid-muridnya ialah persahabatan. Para murid tidak bisa menempatkan diri sebagai hamba, melainkan sebagai sahabat. Yesus sendiri tampaknya tak memelihara paradigma relasi tuan-hamba, apalagi terhadap murid-muridnya. Ia telah menyatakan para muridnya segala sesuatu yang telah didengarnya dari Bapa (Yoh 15,15) dan di situlah letak inti persahabatan Yesus dengan murid-muridnya yang ujian terakhirnya adalah kematian bagi sahabat-sahabat itu. Orang menjadi sahabat Yesus jika mendengarkan dan melakukan kehendak Bapa yang diwahyukan dalam diri Yesus itu.

Persahabatan seperti ini tidak konsumtif seperti vacuum cleaner, tetapi justru menghasilkan buah berlimpah. Ada kalanya beberapa hal justru perlu dilepaskan, direlakan, diikhlaskan semata-mata karena memang tak membuahkan, meskipun tampaknya memberi kemeriahan dalam pertemanan. Persahabatan biasanya dimengerti sebagai kemendalaman dalam berteman dan romantismenya tidak lagi dalam wujud keakraban, melainkan kesatuan hati dan budi. Apa yang menyatukan? Bukan hobi, bukan kesenangan, melainkan iman yang sama kepada Allah yang senantiasa mencari cara untuk menyatakan Diri-Nya dalam hidup fana ini.

pepatah-persahabatan

RABU PASKA V
6 Mei 2015

Kis 15,1-6
Yoh 15,1-8

Posting Tahun Lalu: Gak Usah Ngotot