Salam Damai Gombal

Saya pernah dikejutkan oleh seorang bapak yang setelah misa masuk ke sakristi dan bertanya dengan nada marah, “Sejak kapan itu ada salam damai segala?!” Saya heran, apa orang ini baru pertama kali misa atau sampai tuanya selalu tidur saat salam damai? Saya tak berani mengungkapkan keheranan saya itu karena waktu itu saya masih ingusan sedangkan bapak itu sudah tak punya ingus. Kasihan, sudah gak punya ingus malah dimarahi balik oleh anak ingusan seperti saya.

Belakangan malah saya yang sempat merasa sebal sekali dengan ‘acara’ salam damai. Kenapa? Karena kebanyakan orang bersalaman tetapi mata mereka mendarat ke orang lain yang tak terhubung dengan tangan yang mereka salami. Jangan-jangan bapak yang dulu merangsek ke sakristi itu adalah korban ‘pelecehan salam damai’ seperti saya! Bedanya, dia sangat ekspresif mengungkapkan kegusarannya, sedangkan saya cuma memendam rasa jengkel itu dalam hati.

Ada juga orang yang begitu kaku terhadap salam damai ini mengingat teks Kitab Suci: jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu (Mat 5,23-24). Sedemikian kakunya dia sehingga malah tak mau ikut misa karena masih menyimpan amarah terhadap orang lain.

Bapak yang marah-marah, saya yang masih ingusan, dan orang yang kaku terhadap salam damai tadi tampaknya punya sekurang-kurangnya satu kesamaan: tidak paham bahwa salam damai dalam Ekaristi itu adalah terusan dari teks doa damai yang dibacakan hari ini. Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu (Yoh 14,27). Yang dibagikan kepada tetangga bukan rasa perasaan damai kita, melainkan damai Tuhan sendiri. Ini adalah damai yang mengatasi aneka gejolak perasaan.

Damai Tuhan macam ini tidak menyangkal kecenderungan manusiawi untuk jengkel dan marah terhadap pelaku kekerasan atau kejahatan (dan rasa-rasanya mengharapkan orang supaya dihukum mati saja jika jahatnya minta ampun – wong jahatnya minta ampun kok malah dihukum mati ya). Akan tetapi, kedamaian yang berasal dari Allah benar-benar melampaui kedamaian yang bisa diberikan dunia. Dunia memberikan damai bersyarat. Damai Tuhan tak bersyarat: terserah mau salaman lalu pakai lotion pembersih tangan, berpelukan, sungkem, menganggukkan kepala, mengatupkan tangan dan membungkukkan badan, dan lain-lain. Pokoknya, yang kubagikan adalah damai Kristus, bukan damai buatan pikiran dan perasaanku. Seperti apa itu damai Kristus? Ungkapan cinta dalam iman dan harapan bahwa Kristus merajai hati orang.


SELASA PASKA V
5 Mei 2015

Kis 14,19-28
Yoh 14,27-31a

Posting Tahun Lalu: Imagine… No Countries, No Religions