Hidup yang Produktif

Apa yang ada di kepala kita ketika mendengar penuturan bandar narkoba tentang betapa susahnya bertobat dari bisnis narkoba atau betapa luasnya cengkeraman jaringan narkoba di Indonesia ini? Saya tak habis pikir bagaimana wawancara seperti itu bisa berkeliaran bebas. Seandainya bandar itu mengatakan keadaan sesungguhnya, jelaslah persoalan utamanya bukan pada narkobanya sendiri, melainkan pada ketidakmampuan orang untuk memilah-milah mana hidup sejati dan mana kepalsuan hidup, yang sekadar memelihara fungsi organ tubuh lengkap dengan sensasi-sensasi yang ditimbulkannya.

Pernah di meja seorang guru datang sepucuk surat dengan serbuk narkoba di dalamnya, dengan lampiran aneka hadiah yang memukau. Order untuk pengedaran dua bungkus mendapat hadiah motor. Empat bungkus, mobil; dan seterusnya. Hmmm… lumayan juga, hanya dengan beberapa bungkus saja ia bisa membelikan rumah untuk keluarganya! Kalau lebih lama lagi akrab dengan dunia itu, bukan tak mungkin milyaran rupiah bisa masuk kantong dan tak perlu risau lagi dengan gaji guru yang minim. Sayangnya, guru itu tak tergiur dengan iming-iming harta yang memang nyata (seperti dituturkan dalam wawancara televisi itu).

Hari ini Yesus melukiskan identitas dirinya dengan imaji pokok anggur. Imaji ini sudah sejak lama dikenal Israel. Konon di pintu masuk bagian paling sakral dari Bait Allah Israel ada pokok anggur alami yang menutupi seluruh bagian dinding yang lama kelamaan tercampur dengan tandan anggur yang terbuat dari emas yang disematkan oleh para peziarah. Maksudnya apa? Ya biasa to, manusia maunya melihat yang indah-indah dan berharap bahwa pokok anggur yang berbuah anggur emas itu dipandang indah juga oleh Allah yang mereka sembah. Tindakan itu juga bisa diartikan bahwa mereka melihat bangsa Israel telah menghasilkan buah yang begitu indah.

Akan tetapi, biar bagaimanapun, pokok anggur ‘berbuah anggur emas’ itu bukanlah pokok anggur yang sesungguhnya dalam hidup nyata ini. Yesus menyatakan dirinya sebagai pokok anggur yang benar, sementara Allah adalah pemilik kebun anggur yang setia memelihara: ranting yang rusak dipotongnya, yang baik dirawatnya. Maka, jika pengikutnya diumpamakan sebagai ranting, para murid Yesus ini juga mesti nyanthol ke pokok anggur supaya bisa berbuah. Hidup sejati ialah seperti pokok anggur yang produktif, yang menghasilkan buah anggur segar, bukan tempelan anggur emas seperti pada pintu Bait Allah Israel itu.

Sekarang ini bisa dimengerti bagaimana orang bergantung pada charger setiap kali mereka bepergian. Charger doang tentu gak ada gunanya jika orang tak menemukan sumber listrik. Kesatuan sempurna dengan pokok anggur yang sejati itu, bagi orang Kristen, ialah seperti ketika charger menemukan sumber listriknya: kesatuan dengan Kristus. Ini bukan soal mistik-mistikan manunggaling kawula gusti, melainkan soal mendengarkan Sabda yang tersirat dalam Kitab Suci. Hanya orang-orang yang connect dengan Sabda Allah inilah yang hidupnya asli produktif, tidak sekadar produktif dengan aneka tempelan buah.


MINGGU PASKA V B/1
3 Mei 2015

Kis 9,26-31
1Yoh 3,18-24
Yoh 15,1-8

Posting Minggu Paska V A/2 2014: Kepastian Iman?

1 reply