Shortcut to God

Setiap orang punya tendensi mencari shortcut dan itulah sebabnya teknologi berkembang. Hidup sehari-hari manusia semakin lebih dipermudah tetapi cenderung direduksi sebagai teknik belaka. Proses cenderung diabaikan dan orang langsung berorientasi pada hasil. Ini juga terlihat dari reaksi seseorang terhadap wacana yang ada di luar bidang konsentrasinya. Orang yang tidak mempelajari politik maunya melihat kenyataan narkoba harus diberantas, termasuk dengan menembak mati (orang yang belum tentu juga adalah) gembong narkoba. Orang yang tak belajar ekonomi maunya langsung melihat bahwa orang kaya haruslah membantu orang miskin dengan kekayaannya. Orang yang hanya punya latarbelakang ilmu suci cenderung maunya dunia ini yakin bahwa dengan doa segala-galanya beres, tak peduli komplikasi persoalannya.

Filipus, salah seorang murid Yesus, kiranya mengalami dinamika yang sama. Ia tak paham dengan wacana mistik pengenalan akan Allah yang disodorkan Yesus. Sebelumnya Tomas sudah bertanya Yesus ini mau ke mana dan bagaimana ia bisa menyusul Yesus itu. Malah dijawab “Akulah jalan itu.” Hadeh, piye toh! Sekarang omong lagi bahwa mengenal dia berarti mengenal Allah Bapa. Iki piye jal, wong dia juga bilang dia bukanlah Allah Bapa itu. Sudah mumet bin puyeng, Filipus mencari shortcut, “Dah, sekarang gini aja, tunjukkanlah Allah Bapa itu supaya semuanya jadi jelas. Jangan berwacana melulu.”

Persis di situlah persoalannya. Filipus berpikir bahwa Allah Bapa itu bisa diakses langsung untuk disandingkan dengan Yesus (haiya kalau begitu pancen ada dua Allah sekurang-kurangnya). Maklum, ia belum belajar teologi trinitas langsung dari sumbernya. Tepatnya, ia sedang mempelajari misteri Allah Tritunggal itu dari Kristus sendiri tetapi toh belum bisa menangkapnya: bahwa Allah Bapa yang tak kelihatan itu bisa dikenali dengan shortcut yang paling manjur, yaitu Yesus Kristus sendiri. Runyamnya, untuk mengenal Yesus Kristus sendiri masih dibutuhkan shortcut yang seringkali malah bikin orang sudah malas sebelum mencoba memahaminya. Apa shortcut itu? Melakukan pekerjaan-pekerjaannya!

Akan tetapi, melakukan pekerjaan Kristus tidak sama dengan melakukan perbuatan-perbuatannya! Lha ya nonsense dong! Ini adalah soal menjalankan proyek keselamatan Allah dalam kerendahan hati, cinta, dan pengampunan. Itu yang dihidupi Kristus. Ternyata, shortcutnya gak cuma satu: orang perlu belajar rendah hati, mencintai, dan mengampuni…. duh…


SABTU PASKA IV
2 Mei 2015
Peringatan Wajib Santo Atanasius

Kis 13,44-52
Yoh 14,7-14

Posting Tahun Lalu: Akal versus Okol