Akal versus Okol

A popular man arouses the jealousy of the powerful, kata penulis sci-fi Amerika, Frank Herbert.
Iri hati merasuki orang Yahudi dan celakanya mereka gak bisa melawan roh dan kebijaksanaan yang disampaikan Paulus dan Barnabas. Ini memicu konspirasi mereka dengan perempuan-perempuan terkemuka Yahudi nan saleh untuk memperluas cerita palsu yang menarik perhatian boss-boss besar di Antiokhia. Maklumlah, beauty is more popular than virtues because it is more visible than virtues (Amit Kalantri).

Kesesatan paham yang dibakar oleh iri hati itu gak menjernihkan akal, tapi memanas-manasi okol (otot, kekuatan fisik). Jadilah mereka menganiaya Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari Antiokhia. Lha mau gimana lagi? Adu argumentasi gak bisa, kerohanian cuma bermodalkan yang legal-legal doang, tapi gak mau terima kebenaran Kristus dan Roh Kudusnya. Ya sudah, okol aja deh yang dipakai: ayo pokoknya hancurkan mereka, yang penting sikat mereka! Rasionalisasi muncul belakangan, aturan nanti bisa dibuatkan!

Prioritas okol atas akal ini gak cuma dipelihara orang Yahudi yang memusuhi Paulus dan Barnabas. Filipus yang gak puas dengan jawaban Yesus terhadap pertanyaan Tomas kemarin (gimana kami bisa ikut Engkau, wong kami gak tau ke mana Engkau pergi?) segera melontarkan desakan: sudah mbok gak usah bertele-tele, tunjukkan saja Bapamu itu kepada kami dan kami sudah puas dengan itu! Filipus gak paham dengan omongan gurunya: mosok mengenal Yesus berarti mengenal Bapa, dan bahkan melihat Dia?!

Filipus mencari yang sensasional dan spektakular: ia ingin otot-otot matanya berakomodasi dan melihat Bapa yang digembar-gemborkan Yesus. Kalau Yesus dan Bapanya itu satu dan ternyata di depan ini cuma ada Yesus, mana si Bapa? Ayo tunjukkan itu dong, cukup sudah itu bagiku!the eyes useless

Pola pikir seperti itu tentu gak cuma ada di kepala Filipus. Orang masih memeliharanya sampai sekarang: tak mau melihat di balik kehancuran fisik, tak mau pergi lebih jauh dari okol dan berpikir sejenak membuka hati, tak mau sedikit bersusah demi cinta yang meluas, tak mau melepaskan diri dari jaminan kenyamanan harta, dan sebagainya…

Ini bisa jadi benih pendekatan kekuasaan yang membangun relasi timpang baik dengan Tuhan maupun dengan sesama. Orang tak lagi tergerak untuk mencari kebaruan, tetapi mencari kuasa untuk menang, menang, dan menang.


SABTU PASKA IV A

Kis 13,44-52
Yoh 14,7-14

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s