Sebetulnya Paham Gak Sih?

Pengalaman mengajar kadang kala bisa diparalelkan dengan pengalaman proses menjadi murid Kristus: betapa sulitnya (mau) memahami pengajaran Kristus. Kadang guru atau dosen mengambil kesempatan untuk memastikan bahwa apa yang diterangkannya bisa ditangkap oleh para murid. Lucunya, kalau dosen atau guru hanya bertanya apakah para murid paham, mereka ini kebanyakan menerapkan prinsip “diam tanda setuju”. Beberapa mungkin menjawab lantang bahwa mereka paham, tetapi jika guru menyodorkan pertanyaan untuk sekadar cross-check… baru deh ketahuan….

Jawaban jemaat di Efesus sebetulnya lucu. Tampaknya Apollos sudah lebih dahulu memberi pewartaan di sini dan Paulus hendak memperkokoh dasar pewartaan yang sudah ada. Jebulnya ketahuan juga bahwa pentolan-pentolan jemaat kristen di situ belum punya landasan yang komplet. Sewaktu ditanya Paulus apakah sudah menerima Roh Kudus sewaktu dibaptis, mereka malah menjawab, “Roh Kudus, apaan sih itu? Baru dengar.”

Rupanya mereka ini masih berkutat dengan baptisan Yohanes: pembaptisan yang mengantar orang pada pertobatan. Tentu saja ini baik, tetapi tidak cukup. Bahkan meskipun jemaat Efesus ini lambat laun mengerti bahwa Yohanes Pembaptis merujuk Kristus yang membaptis dengan Roh, mereka pun belum ngeh soal Roh Kudus yang ditanyakan Paulus tadi. Mereka percaya kepada Putera Allah, tetapi tidak paham bahwa kepercayaan itu hanya mungkin jika mereka percaya kepada Roh Kudus. Lha ini kok malah Roh Kudus saja mereka baru dengar waktu Paulus menanyakannya!

Paulus butuh waktu tiga bulan untuk meyakinkan anggota-anggota jemaat itu tentang Kerajaan Allah. Itu artinya, Roh Kudus sumber kebijaksanaan dan penghiburan itu bukan pertama-tama soal energi yang dicurahkan Kristus supaya bisa dicurahkan lagi kepada orang lain (biar bisa ngecipris dengan bahasa Roh)! Roh Kudus bukan juga soal tenaga dalam yang dimiliki orang untuk menjadi kebal atau membuat orang pingsan tak sadarkan diri karena aneka rumusan doa-doa bahasa asing!

penumpangan tanganLoh, Romo, bukannya ditulis “ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat”? Itu maksudnya apa dong kalau bukan soal ngecipris tadi?

Maksudnya, seperti para rasul, mereka punya karunia Roh Kudus untuk bernubuat sehingga mereka memahami misteri Kerajaan Allah sendiri. Mereka juga punya karunia lidah sehingga bisa mewartakan Kerajaan itu kepada segala bangsa, dan dengan demikian, segala bahasa seturut bangsanya. Jadi, masih mau ngotot bahwa Bahasa Roh adalah bahasa aneh dengan desis ular diiringi jeritan-jeritan histeris? Lha yo sumonggo ngotot… (Iman tak bersekongkol dengan okol, tetapi dengan akal)

Roh Kudus yang dinantikan rupanya adalah Roh yang berdaya hidup dalam hati orang, yaitu Roh yang meskipun misterius tetapi toh bisa dikenali lewat dinamika batin manusia. Fides quaerens intellectum (apaan sih?). Maka dari itu, masuk akallah suatu pembedaan Roh, yang jelas membutuhkan kemampuan hati dan budi, bukan semata perasaan, apalagi emosi. Dengan pembedaan roh seperti ini, pemahaman iman orang lambat laun berkembang dan tidak stagnan pada tahap ketiga, yang fokus perhatiannya hanya pada aturan, misalnya.

Ya Tuhan, bantulah kami untuk membuka hati dan meluaskan pikiran supaya iman kami semakin mendalam. Amin.


SENIN PASKA VII A

Kis 19,1-8
Yoh 16,29-33

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s