Life as A Staircase

Saya tak punya hobi menyebar gosip mengenai mukjizat karena saya melihat kehidupan ini seluruhnya sudah mukjizat. Apalagi yang mesti digosipkan? Akan tetapi, kemarin lusa saya menerima klip video mengenai kisah sebuah tangga di sebuah gereja kecil di Santa Fe, Meksiko. Kisahnya sudah difilmkan (The Staircase) dan bisa dilihat di sini.  Saya sendiri tak tertarik untuk melihatnya. Gak cucuk jauh-jauh ke sana hanya untuk melihat sebuah tangga, wong ya fotonya sudah ada.

Hari ini, May Day, Hari Buruh Internasional, oleh Gereja Katolik diperingati juga Santo Yusuf Pekerja dan komunitas para suster Loretto di Santa Fe punya devosi terhadap Santo Yusuf ini. Alkisah, Suster Madalyn gusar karena gereja kecil yang mereka bangun begitu indah tetapi arsiteknya melupakan tangga untuk naik ke balkon. Tak ada tukang kayu yang bisa membuat tangga di kapel itu tanpa merusak keindahan arsitektur yang sudah dirancang. Mereka frustrasi dan akhirnya berdoa novena kepada Santo Yusuf dan pada hari terakhir, datang seorang bernama Joad dan menyatakan niatnya untuk mengatasi problem tangga di kapel itu dengan membuat tangga ulir.

Tak ada ahli yang percaya bahwa tangga seperti itu bisa dibuat karena tak ada tiang penyokong pada poros tangga ulir itu. Joad tidak menggunakan paku atau lem pada kayu-kayunya dan konon kayu itu tak ditemukan di sekitar Santa Fe. staircase lorettoSekian ratus tahun tangga itu dipakai sehari-hari dan masih bertahan hingga sekarang. Sebagian dari anggota komunitas suster Loretto itu meyakini bahwa Joad adalah Santo Yusuf sendiri. Tentu saja hal ini bisa menimbulkan kontroversi di sana sini. Pada kolom komentar terhadap film di Youtube itu sendiri bisa ditemukan komentar yang bernuansa sektarian, seolah-olah komentatornya itu dibaptis Katolik karena melihat mukjizat itu.

Saya lebih tertarik pada dialog antara Suster Madalyn dan Joad ketika pembuatan tangga ulir itu mengalami komplikasi, yaitu ketika beberapa orang yang terlibat dalam pembangunan kapel itu tak menyukai usaha Joad membuat tangga ulir sementara proses pembuatannya sendiri tampak akan mengalami kegagalan. Joad menegaskan bahwa ia akan menyelesaikan tangga itu dan Suster Madalyn tidak meyakininya karena ia sudah tahu ada yang salah dengan kayu yang dipakai. Suster Madalyn stress, merasa bahwa ia harus menyelesaikan tangga itu.
“Suster, tangga itu bukanlah yang terpenting,” kata Joad.
“Di kapel itu harus ada nyanyian musik di kapel. Tuhan menginginkannya!”
“Bukan! Susterlah yang menginginkannya.” Joad mengoreksi pikiran Suster Madalyn dan menyatakan bahwa yang menghancurkan hidup Suster Madalyn ialah kurang berimannya dia. Wah… berani-beraninya bilang Suster Madalyn kurang beriman, wong jelas tiap hari sembahyang lima waktu! (Lha memangnya kalo tiap hari sembahyang njuk beriman po?)
“Apa Anda ke sini mau menghakimi saya?” sergah Suster Madalyn.
“Bukan, Sus. Saya cuma mau membuat tangga itu. Bukan tangga (milik) Suster, cukup disebut sebuah tangga.”

Tak sedikit orang stress bekerja justru karena berpikir bahwa pekerjaan adalah hidup matinya dia. Mungkin memang betul kalau orang tak melakukan pekerjaan, ia akan mati kelaparan. Akan tetapi, jauh lebih berharga menjalankan pekerjaan itu sebagai sebuah tangga menuju Allah, suatu jalan, kebenaran, dan hidup daripada melakukannya sekadar untuk membangun monumen sejarah demi aneka penghargaan atau award. Sekali lagi, award yang bermakna itu sifatnya seperti bayangan orang: semakin ia mengejarnya, bayangan itu semakin menjauh, dan sebaliknya.


JUMAT PASKA IV
1 Mei 2015
Peringatan Fakultatif S. Yusuf Pekerja

Kis 13,26-33
Yoh 14,1-6

Posting Tahun Lalu: Yesus Arogan Skale’?