Susahnya Mikir Bareng

Saya tak tahu apa yang akan direfleksikan Ahok kalau ia membaca teks yang disodorkan kalender liturgi hari ini: Tanpa Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Aku di situ maksudnya adalah Tuhan, dan Tuhan dalam wacana interreligius tak perlu diperdebatkan maksudnya apa. De facto, Ahok telah berbuat banyak untuk DKI Jakarta. Apakah itu berarti Tuhan berpihak padanya dan tidak berpihak pada orang-orang yang digusur dan dipindah ke rusun? Sabar bleh, Tuhan tidak berpihak kepada agen manapun, atau kalau mau lebih positif: ia memihak semuanya saja; semakin universal, semakin klop dengan visi Allah pencipta. 

Kalau begitu, pernyataan “Tanpa Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” tentu tidak bicara soal kemampuan Ahok menata DKI Jakarta. Ahok bisa menata DKI sejauh dia punya kekuasaan untuk untuk mengeksekusinya. Dia bisa pasang ribuan CCTV, dia bisa blusukan, dia bisa tuntaskan fasilitas transportasi publik gratis, dan sebagainya. Tetapi itu semua bukan apa-apa jika dia tak sungguh-sungguh bersama Dia yang mengatakan “You can do nothing without me!”

Hal yang sama bisa diterapkan pada warga di perkampungan kumuh, di bantaran kali, di tanah negara, dan lain sebagainya yang santer dijadikan bahan kritik terhadap kinerja Ahok. Mereka bisa bertahan di tanah yang rawan penggusuran, mereka bisa membaptis diri sebagai manusia perahu, mereka bisa membuat demo atau dengan advokasi hukum menuntut Pemda dan seterusnya. Bisa jadi mereka berhasil memenangkan kepentingan mereka. Akan tetapi, itu semua bukan apa-apa jika mereka tak sungguh-sungguh bersama Dia yang mengatakan “Senza di me non potete fare nulla!”

Sudah satu dekade ini saya mencabut status kependudukan sebagai warga DKI, tetapi rasa saya, tak ada dalam benak saya keinginan bahwa DKI menjadi seperti kota-kota maju di Eropa atau Amerika. Saya suka kebersihan, ketertiban, keteraturan, modernitas, dan hal-hal lain yang merepresentasikan kecerdasan masyarakatnya. Akan tetapi, kalau Jakarta mau diplot sebagai kota mekanis seperti kota-kota tak bernyawa, rasanya kok gak tega ya. Saya ingat perjalanan di kota-kota besar Eropa yang ramai tetapi rasa saya ‘senyap’ karena interaksi sosial yang minim (tentu juga karena saya sendiri tidak sedang melakukan immersion): tak ada konsep kampung sebagaimana saya hidupi sekian lama di Jakarta. Tentu saja mempertahankan kampung di area yang jelas jadi titik krusial persoalan banjir Jakarta adalah naif, meskipun ide rusunawa mungkin juga bukan jalan pemecahan yang komprehensif.

Di sinilah letak relevansi kata-kata Kristus tadi: “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa!” Aku adalah Dia yang hendak menyelamatkan semua orang, tanpa pengecualian. Itu juga berarti Dia yang hendak memperhatikan dimensi hidup seutuh-utuhnya. Tanpa perhatian macam itu, siapapun penguasa akan rentan terhadap tuduhan kongkalikong dengan konglomerat; apalagi kalau wakil rakyatnya, alih-alih menyodorkan konsep tata ruang hidup manusiawi (dengan bantuan arsitek berwawasan luas) yang utuh malah bekerja giat merebut tahta atau menjatuhkan penguasa. Ini akan semakin menegaskan kata-kata tadi: “Tanpa Gue, elo-elo kagak bisa ngapa-ngapain!” Kenyataannya, kita bisa berbuat macam-macam hal sih: macam-macam hal yang ujung-ujungnya ‘senyap’.

Tuhan, semoga kepentingan diri kami semakin klop dengan rencana keselamatan-Mu. Amin.


RABU PASKA V
Pesta St. Petrus Kanisius (SJ)
27 April 2016

Kis 15,1-6
Yoh 15,1-8

Posting Tahun 2015: Persahabatan bagai Vacuum Cleaner
Posting Tahun 2014: Gak Usah Ngotot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s