Generasi Mawar?

Saya tahu bahwa sebagian mahasiswa di Jogja ini mencari sumbangan dengan menjual kuntum mawar di perempatan jalan, tetapi saya tak tahu mengapa mereka mencari sumbangan dengan cara itu. Apa tak ada cara lain yang lebih elegan yang lebih klop dengan predikat mahasiswa? Atau memang mahasiswa sedang membangun suatu generasi mawar? Entahlah, pokoknya hari ini mari kita lihat mawar, entah Anda hobi dengan bunga atau tidak.

Ini cerita tetangga sebelah lainnya. Konon Mahatma Gandhi ditanyai oleh seorang misionaris tentang bagaimana kekristenan bisa diterima masyarakat India. Kekristenan, biar bagaimanapun adalah ‘produk Barat’ dengan pola pikir yang berbeda dari pola pikir Timur. Maksud pertanyaan itu tentu saja bagaimana kesenjangan cara berpikir itu bisa ditengahi. Mahatma Gandhi hanya menjawab dengan mengundang misionaris untuk melihat karakteristik bunga mawar. Kalau misionaris itu menghendaki kekristenan diterima oleh masyarakat India, ia mesti membuat kekristenan seperti bunga mawar, yang menarik orang bukan karena durinya, melainkan karena aromanya.

Betul. Sewajarnya kekristenan memberikan aroma simpatik, yang menarik orang untuk mengenalnya. Kolonialisme yang dibuat orang-orang Kristen tentu tidak memberikan aroma yang menarik itu: damai, ketenangan, keadilan, kesejahteraan bersama. Akan tetapi, teks hari ini mempertanyakan kriteria damai yang juga bisa berlaku pada proposal Mahatma Gandhi. Damai sejahtera yang diberikan Yesus tidak seperti damai yang diberikan dunia. Damai yang disodorkan Mahatma Gandhi bisa dianalogikan sebagai aroma semerbak mawar. Damai yang ditawarkan Yesus tak hanya berfokus pada aroma mawar yang semerbak mewangi itu, melainkan juga durinya.

Kalau begitu, damai yang disodorkan Yesus bukanlah damai yang pilih-pilih: mau terima aroma wanginya, gak terima durinya. Ini bukan soal pro terhadap kolonialisme yang dibuat orang-orang Kristen di India selama sekian lama, melainkan soal damai yang tak dihantui oleh ketakutan akan duri mawar tadi. Artinya, damai yang diwartakan Kristus adalah damai yang mengatasi ketakutan. Rasa takut hanya akan mengantar orang pada damai kompromistik politik busuk yang tak peduli akan rasa keadilan yang perlu dibangun: takut petinggi partai meradang, takut pengurus partai membongkar kebusukan, takut anggota tersinggung.

Tentu damai semu ini tak hanya terjadi dalam dimensi sosial politik, tetapi juga dalam dimensi individual. Rasa takut menghambat orang untuk asertif dan menodai kedamaian dengan bom waktu. Rasa takut bisa membuat orang semakin defensif dan mengembangkan pola relasi eksploitatif: memanfaatkan orang lain, mencari cara supaya orang lain bertindak seperti yang kuinginkan! Kalau ini terjadi, tentu orang merasa tenang dan damai. Akan tetapi, ini bukan jenis damai yang disodorkan Kristus.

Damai Kristus adalah buah pelaksanaan Sabda Allah, entah cocok dengan keinginan orang atau tidak. Kalau cocok ya syukur, kalau gak cocok, ya itulah durinya. Banyak kali, damai Kristus ini lebih jadi duri daripada pewangi (tetapi tidak semua duri adalah indikator damai Kristus, yaitu duri yang muncul karena kepentingan-diri yang egoistik, tanpa simpati, tanpa empati). Damai Kristus mengikis kepentingan-diri yang egoistik itu. Kata Rumi pun begitu: The rose’s rarest essence lives in the thorns.

Damai Tuhan beserta kita. Amin.


SELASA PASKA V
26 April 2016

Kis 14,19-28
Yoh 14,27-31a

Posting Tahun 2015: Salam Damai Gombal
Posting Tahun 2014: Imagine… No Countries, No Religions

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s