Belajar Bahasa Nyuk

Ini cerita mengenaskan dari tetangga sebelah ketika berada di negeri Paman Sam. Pada pesta Halloween seorang pelajar Jepang tewas karena ditembak warga Amerika yang panik atas kedatangan pelajar ini. Ceritanya ada di Wikipedia sini, tetapi yang menarik saya adalah komentar tetangga sebelah yang pasti hanyalah tafsiran subjektifnya sendiri: bisa jadi anak itu mendengar kata “Freeze!” sebagai suatu sambutan supaya datang mendekat “Please!” (apalagi kalau terbiasa dengan kata-kata dari orang cadel). Pelajar ini lari mendekat ke rumah warga yang panik itu, barangkali mengira akan ditembak dengan peluru berisi permen karet, dan di situlah awalnya ia meregang nyawa dan beberapa menit kemudian tewas karena kehabisan darah.

Hari ini Gereja Katolik memperingati Markus, pengarang Injil. Teks yang diambil untuk bacaan hari ini sepertinya adalah teks tambahan, yang tak ditulis oleh Markus sendiri. Siapapun penulisnya, pesan yang tertera di situ cukup menarik untuk diperhatikan; pesan yang tak bisa begitu saja ditangkap secara letterleijk. Konon ada pendeta yang tewas karena pagutan ular berbisa yang dipakainya untuk kebaktian. Beritanya ada di sini. Landasan kebaktian dengan ular beracun ini adalah teks yang disodorkan Gereja Katolik untuk pesta Santo Markus hari ini, yaitu ayat 18: mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.

Bagi kelompok orang seperti itu, kematian konyol macam itu diklaim sebagai tanda iman yang sejati, yang autentik. Akan tetapi, kalau kita menangkap betul kesucian narcisistik, kita sadar bahwa sarana (yang dikatakan tanda, indikator orang yang percaya) dijadikan tujuan (menjadi yang pokok). Orang yang menjungkirbalikkan prioritas sarana-tujuan ini melupakan pesan pokoknya sendiri: ia melihat jari telunjuk orang yang mengarah ke tempat lain, ia tak melihat arah yang ditunjukkan jari itu. Orang macam ini puas dengan ritual yang rapi teratur, tetapi tak berhasil membahasakan ritual yang ‘suci’ itu dalam dimensi sosial hidupnya.

Maka, catatan tambahan “mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka” tak bisa dimengerti sebagai bahasa roh yang tak terpahami. Ngotot dengan bahasa roh yang mendesis dan ujaran gak jelas sebagai tanda iman autentik justru menjadi indikator bahwa orang macam ini tidak sedang mewartakan kabar gembira, tetapi sedang menggiatkan kesucian narcisistik tadi, kesucian yang gak nyambung dengan urusan dunia, kesucian yang gak sinkron dengan perintah Yesus sendiri untuk mewartakan kabar gembira.

Memang akibat kealpaan untuk belajar bahasa yang nyambung ini tidak setragis nasib Yoshihiro Hattori. Memang belajar bahasa yang menyambungkan Sabda Allah dengan hidup sehari-hari itu juga gak gampang, apalagi menuangkannya dalam tindakan. Akan tetapi, kalau ini tak dibuat, omongan-omongan orang beragama hanya akan bikin muak mules perih kembung itu!

Tuhan, semoga kami semakin memahami bahasa Cinta-Mu. Amin.


PESTA ST. MARKUS
(Senin Paska V)
25 April 2016

1Ptr 5,5b-14
Mrk 16,15-20

Posting Tahun 2015: Tugasmu ‘Gampang’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s