Cinta Tanpa Batas

Di tengah sejibun omong kosong tentang cinta, saya tambahi lagi ya omongan tentang cinta; biar pada muak, mual, mules, perih, kembung. Tentu saja omongan ini muncul bukan karena saya hendak latah. Teks hari ini memang omong soal cinta kok. Mari lihat omongan Yesus sendiri yang terkesan keminter (merasa paling pintar sendiri): aku memberikan perintah baru kepadamu. Baru gimana, coba? Perjanjian Lama juga dah omong soal perintah mengasihi sesama dan mengasihi Allah. Sekitar empat abad sebelum Yesus hidup pun Sang Buddha sudah omong soal cinta kasih. Apanya yang baru?

Ini yang baru: saling mengasihi seperti aku telah mengasihi kamu.

Banyak orang mengklaim mencintai pasangannya, teman, sahabat, anak, ortu, rekan kerja, kenalan, binatang, dan sebagainya. Akan tetapi, kebanyakan dari klaim itu adalah palsu, semu, ilusif, atau sesat. Tapi sik sik sik, sebetulnya Yesus itu lucu juga, mosok cinta diperintahkan?! Bisakah orang menyuruh orang lainnya supaya saling mencintai? Ya bisa saja sih, tapi justru itulah, mosok cinta jadi sebuah mandat atau perintah? De facto memang begitu sih. Saya belum baca penelitian yang bisa menunjukkan berapa prosentase orang yang menikah karena terpaksa (entah karena umur, gengsi, dipaksa keluarga, dijodohkan, atau alasan lain).

Orang-orang macam itu ya bisa saja mengklaim diri hidup dalam cinta. Akan tetapi, kalau mau jujur, cinta yang wajib hukumnya itu cuma menjerumuskan orang pada frustasi di pihak yang mencinta dan perasaan tertipu di pihak yang dicinta. Lha bisa juga kedua-duanya sekaligus frustrasi karena tertipu oleh yang namanya cinta! Hmm… berapa persen orang yang menghidupi cinta sebagai perintah atau hukum wajib itu ya?

Saya sih menangkap perintah Yesus dengan nuansa begini: kalau kamu mau hidup dalam cinta, cobalah hayati cinta yang kuberikan kepadamu, mencintalah sebagaimana aku mencinta!

Itulah kebaruannya. Itulah yang disebut cinta abadi, cinta tanpa batas, cinta yang tak bisa dikalkulasi. Nyambung dengan yang kemarin, ini bukan wacana soal kuantitas hasil (apakah suami istri cerai atau tidak, apakah keluarga jadi kaya atau tidak, apakah anaknya banyak atau malah minus, apakah masalah dianggap selesai demi political correctness, dst), melainkan wacana soal kualitas proses mencinta (bagaimana menghidupi dinamika komitmen, bagaimana proses penyelesaian problem, dst). Cinta abadi bukan soal waktu, melainkan soal cara mencinta.

Dalam logika kabar gembira, cinta bukanlah kewajiban, melainkan suatu necessary condition bagi hidup manusiawi; sebagaimana orang bernafas. Orang tak punya kewajiban untuk bernafas; ia boleh menahan nafas, satu menit, dua menit, selama ia mampu. Kalau toh tetap mau melihat cinta sebagai kewajiban, wajib di sini perlu dipahami dalam arti prinsip dasar, ‘takdir’ tujuan hidup manusia: cinta dua arah, saling cinta, bagaimanapun mau dibahasakan.

Orang tahu bagaimana lebaynya LSM yang merazia anak muda pemakai emblem komunisme karena dalam hatinya ada intuisi bahwa cinta tak klop dengan kekerasan. Masyarakat sederhana mengerti bahwa poligami merusak tatanan sosial dan cinta senantiasa punya dimensi keadilan sosial juga. Pemahaman-pemahaman seperti ini yang bisa jadi tonggak bagi cinta abadi, cinta tak terbatas, berlaku sepanjang segala abad. Amin.


MINGGU PASKA V C/2
24 April 2016

Kis 14,21b-27
Why 21,1-5a
Yoh 13,31-33a.34-35

Posting Minggu Paska V B/1 2015: Hidup Yang Produktif
Posting Minggu Paska V A/2 2014: Kepastian Iman?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s